Metode Penelitian
Bab ini menjelaskan rancangan metodologis penelitian, meliputi (A) jenis dan pendekatan penelitian, (B) prosedur penelitian dan pengembangan tujuh langkah Gall, Gall, dan Borg, (C) lokasi dan subjek penelitian, (D) instrumen pengumpulan data, (E) teknik pengumpulan data, (F) teknik analisis data, dan (G) indikator keberhasilan penelitian.
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) dengan metode campuran (mixed methods) berdesain sekuensial eksplanatori. R&D digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji efektivitasnya (Sugiyono, 2013). Dalam pendidikan, proses tersebut mencakup pengembangan, uji lapangan, dan revisi produk berdasarkan data empiris (Gall, Gall, & Borg, 2003). Produk penelitian ini adalah media pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang mengintegrasikan Google Workspace for Education dan Canva for Education untuk siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto.
Model R&D yang digunakan adalah model Gall, Gall, dan Borg yang diadaptasi menjadi tujuh langkah. Adaptasi dilakukan dengan mempertahankan unsur pokok berupa penelitian pendahuluan, perencanaan, pengembangan produk, uji coba, dan revisi, tetapi tidak melaksanakan uji operasional luas dan diseminasi karena ruang lingkup penelitian tesis terbatas pada satu madrasah. Preseden adaptasi terdapat pada Almuhtadin (2021), yang menyederhanakan sepuluh langkah menjadi tujuh langkah karena keterbatasan waktu dan biaya, serta Yuliana (2024), yang mengadopsi enam langkah pada pengembangan panduan praktikum IPA. Sebagai pembanding, Fikri (2025) melaksanakan sepuluh tahap secara lengkap pada pengembangan E-LKPD Sejarah Kebudayaan Islam di MAN 2 Mojokerto. Tujuh langkah penelitian ini meliputi: (1) penelitian dan pengumpulan informasi, (2) perencanaan, (3) pengembangan bentuk awal produk, (4) uji coba lapangan awal, (5) revisi produk, (6) uji coba lapangan utama, dan (7) revisi produk akhir (Gall, Gall, & Borg, 2003; Almuhtadin, 2021; Yuliana, 2024; Fikri, 2025).
Pendekatan mixed methods dipilih karena penelitian ini memerlukan data kuantitatif untuk mengukur validitas dan perubahan minat belajar, serta data kualitatif untuk menjelaskan proses penggunaan produk dan alasan di balik pola hasil kuantitatif (Creswell, 2014; Creswell & Creswell, 2018). Desain sekuensial eksplanatori dinyatakan dengan notasi QUAN → qual: fase kuantitatif menjadi fase utama dan diselesaikan terlebih dahulu, kemudian hasilnya digunakan untuk menentukan fokus, partisipan, dan pertanyaan pada fase kualitatif penjelas (Creswell, 2014).
Operasionalisasi desain tersebut ditempatkan secara khusus pada uji coba lapangan utama. Fase QUAN mencakup pengukuran minat sebelum dan sesudah penggunaan produk, analisis skor per indikator, uji perbedaan sebagai analisis utama, ukuran pengaruh, N-Gain sebagai analisis pendukung, dan respons siswa. Setelah hasil kuantitatif diperoleh, peneliti memilih enam siswa secara purposif dengan variasi perubahan skor—masing-masing dua siswa dengan peningkatan tinggi, sedang, dan rendah atau tidak meningkat—serta guru pengampu untuk mengikuti fase qual. Pertanyaan wawancara dibangun dari hasil kuantitatif yang perlu dijelaskan, misalnya indikator yang meningkat paling kecil, respons yang menyimpang dari kecenderungan kelas, atau kendala penggunaan media. Integrasi dilakukan melalui tiga titik: (1) connecting, yaitu hasil kuantitatif menentukan partisipan kualitatif; (2) building, yaitu hasil kuantitatif membentuk pertanyaan pendalaman; dan (3) merging, yaitu kedua hasil disandingkan dalam matriks tampilan gabungan untuk menghasilkan simpulan terpadu. Observasi selama implementasi berfungsi sebagai data proses pendukung, sedangkan wawancara setelah analisis kuantitatif merupakan fase kualitatif penjelas. Data studi pendahuluan pada tahap analisis kebutuhan merupakan data formatif R&D dan tidak diperlakukan sebagai fase kualitatif utama desain sekuensial eksplanatori.
B. Prosedur Penelitian dan Pengembangan
Prosedur penelitian dan pengembangan dalam penelitian ini mengikuti tujuh langkah model Gall, Gall, dan Borg yang telah diadaptasi sebagai berikut.
1. Penelitian dan Pengumpulan Informasi (Research and Information Collecting)
Tahap pertama adalah penelitian pendahuluan untuk mengidentifikasi kebutuhan pengembangan media pembelajaran. Kegiatan pada tahap ini meliputi studi literatur, studi lapangan, dan analisis kebutuhan.
Studi literatur dilakukan dengan mengkaji teori-teori dan konsep-konsep yang relevan dengan pengembangan media pembelajaran berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education untuk meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Literatur yang dikaji mencakup teori media pembelajaran, teori belajar Piaget dan Vygotsky, teori kognitif pembelajaran multimedia Mayer, sembilan peristiwa pembelajaran Gagné, teori minat belajar, kajian Google Workspace for Education, kajian Canva for Education, model pengembangan Borg and Gall, dan penelitian terdahulu yang relevan dengan pengembangan media pembelajaran digital untuk Pendidikan Agama Islam dan Sejarah Kebudayaan Islam (Akcil dkk., 2021; Hinchcliff & Mehmet, 2023; Fikri, 2025; Sharov, 2024).
Studi lapangan dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MAN 1 Mojokerto serta kebutuhan terhadap media pembelajaran yang inovatif. Kegiatan studi lapangan meliputi: (a) observasi proses pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas XII untuk melihat metode pembelajaran yang digunakan, media yang tersedia, dan tingkat minat belajar siswa; (b) wawancara dengan guru Sejarah Kebudayaan Islam kelas XII untuk menggali kendala pembelajaran, kebutuhan media, dan harapan terhadap media yang akan dikembangkan; (c) wawancara dengan siswa kelas XII untuk mengetahui persepsi mereka terhadap mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, tingkat minat belajar, dan preferensi media pembelajaran; serta (d) analisis dokumen kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam kelas XII untuk mengidentifikasi materi yang sesuai untuk dikembangkan (Fikri, 2025).
Analisis kebutuhan dilakukan dengan menyintesis hasil studi literatur dan studi lapangan untuk menentukan spesifikasi produk yang akan dikembangkan. Analisis ini mencakup identifikasi materi Bab I buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII tentang Perkembangan Islam di Indonesia (situasi pra-Islam, jalur masuk, strategi dakwah, dan fase Islamisasi), karakteristik siswa kelas XII (usia 17–18 tahun, kategori operasi formal Piaget, generasi digital native), infrastruktur teknologi yang tersedia di madrasah (akses internet, perangkat komputer/laptop/gawai, LCD proyektor), dan kompetensi digital guru Sejarah Kebudayaan Islam dalam menggunakan platform Google Workspace for Education dan Canva for Education.
2. Perencanaan (Planning)
Tahap kedua adalah merencanakan pengembangan produk media pembelajaran berdasarkan hasil analisis kebutuhan. Kegiatan pada tahap ini meliputi perumusan tujuan pengembangan, penyusunan desain produk, penyusunan instrumen, penentuan subjek uji coba, serta estimasi waktu dan biaya.
Perumusan tujuan pengembangan dirumuskan sebagai upaya menghasilkan media pembelajaran berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education yang valid dan efektif untuk meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas XII materi Perkembangan Islam di Indonesia di MAN 1 Mojokerto.
Penyusunan desain produk dilakukan dengan merancang integrasi ekosistem Google Workspace for Education (Google Classroom, Google Docs, Google Forms, Google Drive, Google Meet, dan Google My Maps) bersama Canva for Education untuk menciptakan pembelajaran yang interaktif, kolaboratif, dan visual. Komponen produk meliputi: (a) Google Classroom sebagai platform manajemen pembelajaran untuk distribusi materi, penugasan, dan penilaian; (b) Canva for Education sebagai studio kreatif untuk produksi seluruh konten visual dan presentasi pembelajaran berupa peta jalur masuk Islam ke Nusantara, lini masa fase Islamisasi, infografis strategi dakwah, video pendek, dan slide presentasi materi maupun proyek siswa; (c) Google Docs untuk lembar kerja kolaboratif dan refleksi siswa; (d) Google Forms untuk pretest, posttest, dan angket minat belajar; serta (e) Google My Maps untuk pemetaan jalur masuk Islam dan lokasi pusat-pusat dakwah awal di Nusantara.
Penyusunan instrumen penelitian mencakup penyiapan lembar analisis kebutuhan, lembar validasi ahli materi Sejarah Kebudayaan Islam, lembar validasi ahli media pembelajaran, lembar validasi ahli desain pembelajaran, angket minat belajar siswa untuk pretest dan posttest, angket respons siswa terhadap produk, pedoman observasi pembelajaran, pedoman wawancara guru, dan pedoman wawancara siswa.
Penentuan subjek uji coba dilakukan dengan menetapkan tiga validator ahli, sekurang-kurangnya tiga puluh siswa kelas XII di luar kelas utama untuk uji empiris angket, sembilan siswa kelas XII MAN 1 Mojokerto untuk rangkaian uji coba terbatas, satu kelas utuh kelas XII untuk uji coba lapangan utama, dan enam siswa dari kelas utama untuk wawancara fase kualitatif penjelas. Sembilan siswa uji coba terbatas terdiri atas tiga siswa pada uji perorangan dan enam siswa lain pada uji kelompok kecil sehingga tidak terjadi penghitungan ganda. Peserta uji empiris, uji terbatas, dan kelas utama tidak saling tumpang tindih. Jika jumlah populasi tidak memungkinkan pemisahan tersebut, uji empiris dilakukan pada siswa kelas XII dari madrasah lain yang memiliki karakteristik sebanding setelah memperoleh izin.
Estimasi waktu dan biaya mencakup empat hingga enam bulan keseluruhan, dengan rincian satu bulan pengembangan produk awal, dua minggu validasi ahli, dua minggu revisi produk, dua minggu uji coba terbatas, satu minggu revisi produk utama, empat minggu uji coba lapangan utama, dan satu minggu revisi produk akhir. Biaya pengembangan mencakup biaya akses internet, pencetakan instrumen, dan transportasi penelitian.
3. Pengembangan Bentuk Awal Produk (Develop Preliminary Form of Product)
Tahap ketiga adalah pengembangan produk awal media pembelajaran berdasarkan desain yang telah direncanakan. Kegiatan pada tahap ini meliputi penyusunan materi, pembuatan konten visual, penataan aktivitas pembelajaran, integrasi platform, dan penyusunan panduan penggunaan.
Penyusunan materi pembelajaran dilakukan berdasarkan Kompetensi Dasar mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas XII serta ruang lingkup Bab I buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII (Kementerian Agama RI, 2019; Arifin, 2020). Materi produk mencakup situasi Indonesia sebelum kedatangan Islam, jalur dan proses awal masuknya Islam, strategi penyebaran Islam, serta fase awal perkembangan Islam di Indonesia. Tabel berikut membedakan secara tegas rumusan Kompetensi Dasar resmi dari indikator pencapaian kompetensi yang dikembangkan peneliti. Rumusan KD 3.1 dan 4.1 dikutip dari Keputusan Menteri Agama Nomor 183 Tahun 2019, sedangkan indikatornya diturunkan secara operasional sesuai ruang lingkup materi produk.
| Kompetensi Dasar KMA Nomor 183 Tahun 2019 | Indikator Pencapaian Kompetensi |
|---|---|
| 3.1 Menganalisis jalur dan proses awal masuknya Islam di Indonesia |
3.1.1 Menjelaskan situasi sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat Indonesia sebelum kedatangan Islam. 3.1.2 Mengidentifikasi jalur dan proses awal masuknya Islam di Indonesia. 3.1.3 Membandingkan teori-teori awal masuknya Islam ke Indonesia berdasarkan bukti pendukungnya. 3.1.4 Menganalisis hubungan antara jalur masuk, strategi penyebaran, dan perkembangan awal Islam di Indonesia. |
| 4.1 Membuat kerangka hasil analisis mengenai jalur dan proses awal masuknya Islam di Indonesia |
4.1.1 Menyusun kerangka kronologis proses awal masuknya Islam di Indonesia. 4.1.2 Membuat peta jalur awal masuknya Islam ke Indonesia. 4.1.3 Menyajikan hasil analisis dalam bentuk lini masa, infografis, atau presentasi visual. 4.1.4 Mengomunikasikan hasil analisis dan ibrah proses Islamisasi secara lisan maupun tertulis. |
Pembuatan konten visual dengan Canva for Education dilakukan dengan memanfaatkan template, elemen grafis, font, dan pustaka konten yang tersedia. Konten visual yang dikembangkan meliputi peta jalur masuk Islam ke Nusantara, lini masa fase Islamisasi (abad ke-7 hingga ke-16 Masehi), infografis enam jalur dakwah, kartu konsep tokoh-tokoh dakwah awal, poster keteladanan strategi dakwah damai, dan template presentasi untuk proyek siswa.
Penataan aktivitas pembelajaran di Google Classroom dilakukan dengan menyusun struktur kelas yang meliputi topik atau modul pembelajaran (Pengenalan Islam Nusantara, Jalur Masuk, Strategi Dakwah, Fase Islamisasi, Proyek Akhir), materi pembelajaran (PDF, tautan video, tautan artikel, konten visual dari Canva for Education), tugas individu dan kelompok (pembuatan kartu konsep, peta jalur dakwah, presentasi kelompok), forum diskusi, serta penilaian melalui kuis Google Forms dan rubrik penilaian proyek.
Integrasi Google Workspace for Education dan Canva for Education dilakukan dengan cara: (a) konten visual dan slide presentasi dari Canva for Education diunggah ke Google Classroom sebagai materi pembelajaran; (b) template Canva for Education dibagikan kepada siswa melalui tautan di Google Classroom untuk tugas pembuatan konten visual dan presentasi proyek; (c) hasil karya siswa dikumpulkan melalui Google Classroom; serta (d) Google My Maps digunakan untuk pemetaan kolaboratif jalur masuk Islam ke Nusantara.
Penyusunan panduan penggunaan mencakup panduan untuk guru dan siswa, meliputi cara mengakses Google Classroom, cara mengunduh dan menggunakan materi, cara menggunakan Canva for Education, cara mengumpulkan tugas, cara berpartisipasi dalam diskusi kelas, dan cara mengerjakan kuis Google Forms.
4. Uji Coba Lapangan Awal (Preliminary Field Testing)
Tahap keempat adalah uji coba awal produk dalam skala kecil untuk memperoleh evaluasi awal dari para ahli dan calon pengguna. Kegiatan pada tahap ini meliputi validasi ahli dan uji coba terbatas.
Validasi ahli dilakukan oleh tiga validator, yaitu: (a) ahli materi Sejarah Kebudayaan Islam (dosen rumpun Pendidikan Agama Islam atau guru senior Sejarah Kebudayaan Islam) untuk menilai kesesuaian materi dengan kurikulum, kebenaran substansi, dan kesesuaian dengan karakteristik mata pelajaran; (b) ahli media pembelajaran (dosen teknologi pendidikan atau ahli multimedia) untuk menilai desain visual, tata letak, tipografi, penggunaan warna, kualitas grafis, dan aspek teknis media; serta (c) ahli desain pembelajaran (dosen kurikulum atau praktisi pengembangan instruksional) untuk menilai keselarasan media dengan prinsip desain pembelajaran, kejelasan tujuan, dan kesesuaian alur pembelajaran (Yuliana, 2024; Almuhtadin, 2021). Instrumen validasi menggunakan skala Likert empat poin. Validasi ini merupakan penilaian kelayakan produk, sedangkan validitas dan reliabilitas instrumen pengumpulan data diuji melalui prosedur tersendiri pada bagian instrumen penelitian.
Uji coba terbatas dilakukan setelah produk direvisi berdasarkan masukan validator ahli. Tahap ini melibatkan sembilan siswa yang dipilih secara purposif berdasarkan variasi kemampuan akademik dan kompetensi digital. Uji perorangan (one-to-one) melibatkan tiga siswa—masing-masing satu siswa berkategori akademik tinggi, sedang, dan rendah—untuk menilai keterbacaan, navigasi, kejelasan instruksi, dan daya tarik visual. Setelah perbaikan, uji kelompok kecil melibatkan enam siswa lain dengan komposisi dua siswa berkategori tinggi, dua sedang, dan dua rendah. Data dihimpun melalui observasi, wawancara siswa, dan angket respons, lalu dianalisis secara deskriptif sebagai dasar revisi produk. Penetapan sembilan siswa sesuai rentang enam sampai dua belas subjek pada uji lapangan awal model asli dan pola berjenjang tiga serta enam siswa yang dilaporkan Arum dkk. (2025) (Gall, Gall, & Borg, 2003; Arum dkk., 2025). Karena tahap ini merupakan evaluasi formatif, jumlah tersebut tidak dimaksudkan untuk pengujian hipotesis.
5. Revisi Produk (Main Product Revision)
Tahap kelima adalah revisi produk berdasarkan hasil validasi ahli dan uji coba terbatas. Revisi dilakukan pada aspek-aspek yang dinilai kurang valid atau kurang sesuai, meliputi perbaikan substansi materi jika ditemukan kesalahan konsep, perbaikan desain visual jika kurang menarik atau tidak selaras dengan prinsip desain multimedia (Mayer, 2014), perbaikan navigasi jika menyulitkan, perbaikan instruksi tugas jika kurang jelas, dan perbaikan teknis jika ditemukan kesalahan fungsi. Catatan revisi didokumentasikan secara sistematis untuk menjadi dasar perbaikan dan dilaporkan dalam Bab IV.
6. Uji Coba Lapangan Utama (Main Field Testing)
Tahap keenam adalah uji coba lapangan utama untuk menguji efektivitas produk dalam meningkatkan minat belajar siswa. Uji coba ini menggunakan desain One Group Pretest-Posttest Design dengan satu kelas utuh siswa kelas XII MAN 1 Mojokerto sebagai subjek uji coba. Jumlah peserta mengikuti seluruh siswa aktif pada kelas terpilih dan dilaporkan apa adanya; angka sekitar tiga puluh siswa merupakan perkiraan ukuran kelas, bukan kuota tetap. Desain satu kelompok dipilih karena fokus penelitian pada pengembangan produk dan keterbatasan pelaksanaan pada satu konteks kelas, bukan eksperimen murni dengan kelompok kontrol (Sugiyono, 2013). Karena tidak menggunakan kelompok kontrol, perubahan skor ditafsirkan sebagai bukti efektivitas kontekstual dan tidak digunakan untuk membuat klaim kausal atau generalisasi luas.
Prosedur uji coba lapangan utama meliputi langkah-langkah berikut: (a) pengisian pretest minat belajar sebelum penggunaan produk; (b) implementasi pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam menggunakan media yang dikembangkan selama empat hingga enam pertemuan; (c) pengisian posttest minat belajar dengan angket yang sama; (d) pengisian angket respons siswa; dan (e) analisis awal data kuantitatif. Hasil analisis awal digunakan untuk memilih enam siswa secara purposif dengan variasi perubahan skor dan menyusun pertanyaan wawancara penjelas. Wawancara terhadap siswa terpilih dan guru pengampu dilaksanakan setelah analisis kuantitatif, sedangkan observasi dilaksanakan selama implementasi untuk merekam proses dan konteks penggunaan produk (Creswell, 2014).
7. Revisi Produk Akhir (Final Product Revision)
Tahap ketujuh adalah revisi produk berdasarkan hasil uji coba lapangan utama. Revisi dilakukan pada aspek-aspek yang masih perlu diperbaiki berdasarkan data observasi, wawancara, dan angket respons siswa. Produk disebut final dalam batas penelitian ini setelah revisi akhir selesai dan seluruh kriteria keberhasilan yang ditetapkan terpenuhi. Produk akhir disertai panduan penggunaan untuk guru dan siswa serta dokumentasi proses pengembangan; penerapan di luar kelas penelitian tetap memerlukan penyesuaian dan pengujian sesuai konteks penggunaannya.
C. Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian ini direncanakan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Mojokerto karena produk dikembangkan untuk pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas XII pada konteks madrasah tersebut. Ketersediaan perangkat, jaringan, akun, kesiapan pengguna, dan dukungan institusional tidak diasumsikan telah terpenuhi, tetapi diverifikasi melalui analisis kebutuhan sebelum pengembangan produk. Hasil verifikasi menjadi dasar untuk menyesuaikan spesifikasi teknis dan skenario implementasi.
Subjek penelitian terdiri atas lima kelompok. Pertama, tiga validator yang dipilih secara purposif berdasarkan kesesuaian keahlian, meliputi ahli materi Sejarah Kebudayaan Islam, ahli media pembelajaran, dan ahli desain pembelajaran. Kedua, sekurang-kurangnya tiga puluh siswa kelas XII di luar kelas utama untuk uji empiris validitas butir dan reliabilitas angket. Jika pemisahan sampel tidak dapat dipenuhi di MAN 1 Mojokerto, kelompok ini direkrut dari madrasah lain yang setara setelah izin diperoleh. Ketiga, sembilan siswa uji coba terbatas yang dipilih secara purposif: tiga siswa untuk uji perorangan dan enam siswa berbeda untuk uji kelompok kecil, dengan representasi kemampuan akademik tinggi, sedang, dan rendah serta variasi kompetensi digital. Keempat, satu kelas utuh untuk uji lapangan utama. Apabila terdapat lebih dari satu kelas XII yang memenuhi kriteria kesetaraan jadwal, guru, materi, kesiapan perangkat, dan belum mengikuti uji sebelumnya, kelas dipilih secara acak kelompok; apabila hanya satu kelas yang memenuhi kriteria, digunakan pemilihan kelompok secara purposif dan alasannya dilaporkan. Jumlah subjek utama mengikuti jumlah siswa aktif pada kelas terpilih, yang diperkirakan sekitar tiga puluh siswa, tanpa mengeluarkan siswa semata-mata untuk memenuhi angka tertentu. Kelima, enam siswa dari kelas utama dipilih secara purposif setelah analisis kuantitatif, masing-masing dua siswa dengan peningkatan skor tinggi, sedang, dan rendah atau tidak meningkat, sebagai partisipan wawancara penjelas (Creswell, 2014; Sugiyono, 2013). Peserta uji empiris, uji terbatas, dan uji lapangan utama tidak saling tumpang tindih.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas instrumen untuk pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif sebagai berikut.
1. Lembar Validasi Ahli
Lembar validasi ahli disusun untuk menilai validitas produk dari aspek materi, media, dan desain pembelajaran. Instrumen menggunakan skala Likert empat poin dengan kriteria penilaian: skor 4 (sangat baik), skor 3 (baik), skor 2 (kurang baik), dan skor 1 (tidak baik). Skala tanpa pilihan tengah digunakan agar validator memberikan kecenderungan penilaian yang tegas. Maulana (2025) digunakan sebagai pembanding praktik penyusunan instrumen validasi ahli dan angket respons dalam penelitian pengembangan media KOKAMI, bukan sebagai nama atau jenis instrumen. Aspek penilaian setiap lembar validasi disesuaikan dengan keahlian validator.
a. Kisi-Kisi Lembar Validasi Ahli Materi
Kisi-kisi lembar validasi ahli materi disusun berdasarkan adaptasi standar Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan praktik pengembangan tesis Sejarah Kebudayaan Islam terdahulu (Fikri, 2025; Almuhtadin, 2021).
| Aspek | Indikator | No. Item |
|---|---|---|
| Kelayakan Isi | Kesesuaian materi dengan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar | 1, 2 |
| Kebenaran substansi materi Perkembangan Islam di Indonesia | 3, 4 | |
| Kedalaman dan keluasan materi sesuai jenjang Madrasah Aliyah | 5, 6 | |
| Kelayakan Penyajian | Sistematika penyajian materi (jalur masuk, strategi dakwah, fase Islamisasi) | 7, 8 |
| Keruntutan alur pembelajaran | 9 | |
| Pendukung penyajian (gambar, peta, lini masa, infografis) | 10, 11 | |
| Kelayakan Bahasa | Kesesuaian bahasa dengan tingkat perkembangan siswa kelas XII | 12, 13 |
| Komunikatif dan dialogis | 14, 15 | |
| Kontekstual | Keterkaitan materi dengan kehidupan kontemporer siswa | 16 |
| Pengambilan ibrah/hikmah dari materi sejarah | 17, 18 | |
| Total Item | 18 | |
b. Kisi-Kisi Lembar Validasi Ahli Media
Kisi-kisi lembar validasi ahli media disusun dengan merujuk pada prinsip desain multimedia Mayer dan praktik validasi media pembelajaran tesis terdahulu (Mayer, 2014; Maulana, 2025; Yuliana, 2024).
| Aspek | Indikator | No. Item |
|---|---|---|
| Tampilan Visual | Kualitas desain konten Canva for Education (peta, lini masa, infografis) | 1, 2 |
| Tata letak, tipografi, dan keterbacaan | 3, 4 | |
| Penggunaan warna dan keselarasan estetika | 5 | |
| Penggunaan Media | Kemudahan navigasi pada Google Classroom | 6, 7 |
| Aksesibilitas konten Canva for Education melalui tautan | 8 | |
| Aspek Teknis | Integrasi Google Workspace for Education dan Canva for Education | 9, 10 |
| Kompatibilitas perangkat dan peramban | 11 | |
| Stabilitas akses berbasis cloud dan kebutuhan jaringan | 12 | |
| Interaktivitas | Interaktivitas tugas (kuis Google Forms, kolaborasi Google Docs) | 13, 14 |
| Keterlibatan siswa melalui aktivitas pembelajaran | 15 | |
| Total Item | 15 | |
c. Kisi-Kisi Lembar Validasi Ahli Desain Pembelajaran
Kisi-kisi lembar validasi ahli desain pembelajaran disusun berdasarkan teori kondisi belajar dan peristiwa pembelajaran Gagné, teori kognitif pembelajaran multimedia Mayer, dan model ARCS Keller (Gagné, 1985; Mayer, 2014; Keller, 1987).
| Aspek | Indikator | No. Item |
|---|---|---|
| Tujuan Pembelajaran | Kejelasan tujuan pembelajaran | 1, 2 |
| Keselarasan tujuan dengan Kompetensi Dasar | 3 | |
| Strategi Instruksional | Penerapan sembilan peristiwa pembelajaran Gagné | 4, 5, 6 |
| Penerapan prinsip multimedia Mayer (koherensi, signal, redundansi) | 7, 8 | |
| Penerapan prinsip ARCS (perhatian, relevansi, percaya diri, kepuasan) | 9, 10, 11, 12 | |
| Aktivitas Belajar | Kesempatan eksplorasi mandiri siswa | 13 |
| Kesempatan kolaborasi antar-siswa | 14, 15 | |
| Evaluasi | Kesesuaian instrumen evaluasi dengan tujuan pembelajaran | 16, 17 |
| Kelayakan umpan balik melalui Google Forms | 18 | |
| Total Item | 18 | |
2. Angket Minat Belajar Siswa
Angket minat belajar disusun berdasarkan dasar konseptual minat dalam Mahmud (2022) dan operasionalisasi empat indikator pada Sari dan Trisnawati (2021), yaitu: (a) perasaan senang terhadap mata pelajaran, (b) ketertarikan terhadap materi, (c) perhatian dalam pembelajaran, dan (d) keterlibatan aktif dalam aktivitas pembelajaran. Angket terdiri atas dua puluh dua butir pernyataan dengan skala Likert empat poin (sangat setuju, setuju, kurang setuju, tidak setuju). Angket ini digunakan untuk pretest sebelum penggunaan produk dan posttest setelah penggunaan produk pada uji coba lapangan utama. Pernyataan angket disusun dalam dua jenis, yaitu pernyataan positif (favorable) dan pernyataan negatif (unfavorable), untuk mengurangi kecenderungan jawaban yang monoton (Sugiyono, 2013).
| Indikator | Sub-Indikator | Item Positif | Item Negatif |
|---|---|---|---|
| Perasaan Senang | Senang mengikuti pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam | 1, 3 | 2 |
| Antusias terhadap kegiatan belajar | 5 | 4 | |
| Ketertarikan | Tertarik mempelajari materi Perkembangan Islam di Indonesia | 7, 8 | 6 |
| Tertarik mencari informasi tambahan di luar kelas | 10 | 9 | |
| Perhatian | Memperhatikan penjelasan guru selama pembelajaran | 11, 13 | 12 |
| Konsentrasi pada materi yang dipelajari | 15 | 14 | |
| Keterlibatan | Aktif bertanya dan berdiskusi di kelas | 16, 18 | 17 |
| Aktif mengerjakan tugas dan proyek | 20, 22 | 19, 21 | |
| Total Item | 22 (13 positif + 9 negatif) | ||
3. Angket Respons Siswa
Angket respons siswa disusun untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap produk media pembelajaran setelah digunakan dalam pembelajaran. Angket terdiri atas lima belas butir pernyataan dengan skala Likert empat poin yang dirancang dengan mengacu pada kerangka Technology Acceptance Model (TAM) untuk dimensi penerimaan teknologi (Rogers dkk., 2025; Sahusilawane dkk., 2024) serta praktik penyusunan angket respons pada penelitian pengembangan media (Arum dkk., 2025; Maulana, 2025).
| Aspek | Indikator | No. Item |
|---|---|---|
| Kemenarikan | Daya tarik visual konten Canva for Education | 1, 2 |
| Antusiasme menggunakan produk dalam pembelajaran | 3 | |
| Perceived Ease of Use (Kemudahan) | Kemudahan akses dan navigasi melalui Google Classroom | 4, 5 |
| Kejelasan petunjuk dan instruksi tugas | 6, 7 | |
| Perceived Usefulness (Manfaat) | Bantuan media dalam memahami materi Perkembangan Islam di Indonesia | 8, 9 |
| Peningkatan motivasi belajar Sejarah Kebudayaan Islam | 10, 11 | |
| Bahasa | Keterbacaan dan kejelasan bahasa pada konten | 12, 13 |
| Niat Penggunaan Berkelanjutan | Keinginan menggunakan media serupa pada pembelajaran lain | 14, 15 |
| Total Item | 15 | |
Aspek perceived ease of use dan perceived usefulness pada angket respons diadaptasi dari penerapan Technology Acceptance Model dalam studi penerimaan Google Classroom oleh Rogers, Salazar, dan Buladaco (2025) serta studi penerimaan teknologi pembelajaran oleh Sahusilawane, Hiariey, dan Hiariey (2024). Dimensi niat penggunaan berkelanjutan digunakan untuk merekam kecenderungan siswa menggunakan media serupa setelah pengalaman pembelajaran.
4. Instrumen Analisis Kebutuhan
Instrumen analisis kebutuhan digunakan pada tahap penelitian dan pengumpulan informasi sebelum produk dirancang. Instrumen ini terdiri atas angket siswa, pedoman wawancara guru, daftar periksa sarana, dan telaah dokumen kurikulum. Aspek yang dihimpun meliputi: (a) kondisi pembelajaran SKI dan media yang telah digunakan; (b) kesulitan siswa pada materi Perkembangan Islam di Indonesia; (c) minat awal dan preferensi bentuk konten; (d) kepemilikan perangkat, akses internet, akun, dan kompetensi digital; (e) kebutuhan guru terhadap pengelolaan kelas, materi visual, aktivitas kolaboratif, dan asesmen; serta (f) kesesuaian materi dengan KD 3.1 dan 4.1 KMA Nomor 183 Tahun 2019. Data dianalisis secara deskriptif dan digunakan untuk menetapkan spesifikasi produk; instrumen ini tidak digunakan untuk mengukur efektivitas.
5. Pedoman Observasi
Pedoman observasi digunakan untuk mengamati proses pembelajaran dan aktivitas siswa selama implementasi produk media pembelajaran. Aspek yang diobservasi meliputi aktivitas siswa dalam menggunakan media, interaksi siswa dengan konten visual, kolaborasi dalam tugas kelompok, partisipasi dalam diskusi kelas, dan kendala teknis yang muncul. Pedoman observasi disusun dalam bentuk daftar periksa (checklist) yang dilengkapi catatan deskriptif untuk setiap aspek.
6. Pedoman Wawancara Guru dan Siswa
Pedoman wawancara guru digunakan pada studi pendahuluan untuk memetakan praktik pembelajaran dan kebutuhan produk, serta setelah uji lapangan utama untuk menjelaskan hasil implementasi dari sudut pandang pengampu. Pedoman wawancara siswa digunakan pada uji one-to-one dan kelompok kecil untuk menemukan masalah keterbacaan, navigasi, tampilan, dan teknis, kemudian digunakan kembali pada fase kualitatif penjelas setelah analisis kuantitatif. Wawancara fase penjelas melibatkan enam siswa terpilih berdasarkan variasi perubahan skor minat. Pertanyaan inti mencakup pengalaman penggunaan, fitur yang membantu atau menghambat, perubahan pada perasaan senang, ketertarikan, perhatian, dan keterlibatan, alasan di balik perubahan skor, serta saran perbaikan. Pertanyaan lanjutan disesuaikan dengan profil hasil kuantitatif tiap partisipan agar hubungan antara kedua fase dapat ditelusuri.
7. Pedoman Skoring Instrumen
Pedoman skoring digunakan untuk memastikan konsistensi penilaian antar-validator dan antar-responden. Pemberian skor pada setiap instrumen disesuaikan dengan jenis pernyataan dan skala yang digunakan, sebagaimana diuraikan pada tabel berikut.
| Skor | Lembar Validasi Ahli | Angket Minat Belajar & Respons (Positif) | Angket Minat Belajar (Negatif) |
|---|---|---|---|
| 4 | Sangat Baik | Sangat Setuju | Tidak Setuju |
| 3 | Baik | Setuju | Kurang Setuju |
| 2 | Kurang Baik | Kurang Setuju | Setuju |
| 1 | Tidak Baik | Tidak Setuju | Sangat Setuju |
Pemberian skor terbalik pada pernyataan negatif dimaksudkan agar nilai akhir tetap mencerminkan arah konstruk minat; persetujuan terhadap pernyataan negatif memperoleh skor lebih rendah. Untuk lembar validasi ahli, deskripsi setiap skor diuraikan secara operasional pada lampiran instrumen agar validator memiliki acuan yang jelas. Maulana (2025) digunakan sebagai pembanding praktik instrumen pengembangan media.
8. Prosedur Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Pengujian instrumen dibedakan dari validasi produk. Validitas isi diterapkan pada seluruh instrumen sebelum pengumpulan data melalui telaah ahli terhadap kesesuaian indikator, kejelasan redaksi, keterwakilan konstruk, kesesuaian bahasa dengan responden, dan kecocokan instrumen dengan tahap R&D. Butir yang dinilai tidak jelas atau tidak relevan direvisi berdasarkan catatan ahli. Pedoman wawancara, lembar observasi, dan lembar analisis kebutuhan juga diuji keterbacaannya secara terbatas agar pertanyaan dapat dipahami dan tidak mengarahkan jawaban.
Uji empiris angket dilakukan sebelum uji lapangan utama kepada sekurang-kurangnya tiga puluh siswa kelas XII yang tidak menjadi anggota uji terbatas maupun kelas uji lapangan utama. Jumlah tiga puluh diposisikan sebagai jumlah minimum operasional untuk memperoleh variasi respons awal pada analisis butir, bukan jaminan keterwakilan populasi. Jika jumlah siswa MAN 1 Mojokerto tidak memungkinkan pemisahan sampel, uji empiris dilaksanakan pada siswa kelas XII dari madrasah lain yang memiliki karakteristik kurikulum dan jenjang sebanding. Untuk angket respons, siswa terlebih dahulu memperoleh demonstrasi dan kesempatan mencoba prototipe agar jawaban diberikan berdasarkan pengalaman penggunaan. Validitas setiap butir dianalisis dengan korelasi Pearson product-moment antara skor butir dan skor total. Butir dinyatakan valid apabila nilai rhitung lebih besar daripada rtabel pada taraf signifikansi 0,05; butir yang tidak memenuhi kriteria diperbaiki atau dihapus dengan tetap mempertimbangkan keterwakilan indikator (Bunari dkk., 2024; Abdullah & Otava, 2024).
Reliabilitas internal angket minat belajar dan angket respons siswa dihitung menggunakan koefisien Alpha Cronbach setelah butir tidak valid ditangani. Instrumen dinyatakan memiliki konsistensi internal yang memadai apabila koefisien alpha sekurang-kurangnya 0,70 (Abdullah & Otava, 2024). Apabila nilai tersebut belum tercapai, peneliti menelaah korelasi butir-total dan perubahan alpha apabila suatu butir dihapus, kemudian merevisi instrumen dan melakukan uji ulang. Lembar validasi produk tidak diuji dengan Alpha Cronbach karena setiap lembar dinilai oleh ahli pada ranah keahlian yang berbeda dan digunakan untuk menilai kelayakan produk, bukan untuk membentuk satu skala responden yang homogen.
9. Prosedur Etika Penelitian
Penelitian dilaksanakan setelah memperoleh persetujuan akademik dan izin tertulis dari MAN 1 Mojokerto. Sebelum pengumpulan data, guru, siswa, dan orang tua atau wali siswa yang belum dewasa menerima penjelasan mengenai tujuan, prosedur, durasi, manfaat, kemungkinan ketidaknyamanan, penggunaan data, serta hak untuk menolak atau menghentikan partisipasi tanpa konsekuensi akademik. Persetujuan guru dan orang tua atau wali serta persetujuan kesediaan siswa dihimpun sesuai ketentuan lembaga. Partisipasi tidak memengaruhi nilai mata pelajaran, dan kegiatan pembelajaran tetap berada dalam pengawasan guru.
Identitas siswa tidak dicantumkan pada instrumen penelitian; setiap siswa menggunakan kode responden yang konsisten untuk memasangkan data pretest, posttest, angket respons, dan wawancara. Daftar penghubung antara kode dan identitas—jika diperlukan untuk pengelolaan data—disimpan terpisah, dibatasi aksesnya hanya bagi peneliti, dan tidak disajikan dalam laporan. Data digital disimpan pada media yang dilindungi sandi, kutipan wawancara dianonimkan, dokumentasi foto atau rekaman dilakukan hanya atas persetujuan, dan data dilaporkan secara agregat. Setelah kewajiban akademik dan masa penyimpanan sesuai kebijakan institusi selesai, data pengenal dimusnahkan secara aman.
E. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data mengikuti tahap R&D dan urutan desain sekuensial eksplanatori. Pertama, studi pendahuluan menggunakan instrumen analisis kebutuhan berupa angket siswa, wawancara guru, daftar periksa sarana, dan telaah dokumen. Kedua, pengembangan dan uji terbatas menggunakan lembar validasi produk, angket respons, observasi, dan wawancara siswa untuk menghasilkan revisi formatif. Ketiga, fase QUAN uji lapangan utama menggunakan angket minat sebelum dan sesudah perlakuan serta angket respons setelah perlakuan; observasi selama implementasi mencatat konteks proses. Keempat, penghubungan antarfase dilakukan dengan menganalisis skor kuantitatif per siswa dan per indikator, lalu memilih enam siswa dengan variasi perubahan skor serta menetapkan hasil yang memerlukan penjelasan. Kelima, fase qual menggunakan wawancara semi terstruktur terhadap siswa terpilih dan guru. Dengan urutan tersebut, wawancara penjelas baru dilakukan setelah hasil kuantitatif tersedia (Creswell, 2014).
F. Teknik Analisis Data
1. Analisis Validitas Produk
Data hasil validasi ahli dianalisis menggunakan teknik persentase sebagaimana digunakan dalam penelitian pengembangan Yuliana (2024), dengan rumus berikut:
P = (Σx / Σxi) × 100%
Keterangan: P adalah persentase tingkat kevalidan, Σx adalah jumlah skor yang diperoleh dari validator, dan Σxi adalah jumlah skor maksimal. Hasil persentase kemudian diinterpretasikan dengan kriteria validitas sebagai berikut.
| Persentase | Kategori | Tindak Lanjut |
|---|---|---|
| 81% – 100% | Sangat Valid | Tidak perlu revisi |
| 61% – 80% | Valid | Tidak perlu revisi |
| 41% – 60% | Cukup Valid | Perlu revisi sebagian |
| 21% – 40% | Kurang Valid | Perlu revisi besar |
| 0% – 20% | Tidak Valid | Revisi total |
Produk dinyatakan layak digunakan apabila memperoleh skor validitas minimal dengan kategori Valid (≥ 61%) dari ketiga validator ahli.
2. Analisis Efektivitas Media terhadap Minat Belajar
Efektivitas media terhadap minat belajar dianalisis secara berurutan. Pertama, statistik deskriptif menyajikan jumlah subjek, rerata atau median, simpangan baku atau rentang antarkuartil, serta perubahan skor keseluruhan dan empat indikator minat. Kedua, uji perbedaan berpasangan menjadi analisis inferensial utama. Normalitas skor selisih (posttest dikurangi pretest) diperiksa dengan Shapiro-Wilk. Jika asumsi normalitas terpenuhi digunakan uji-t berpasangan; jika tidak, digunakan uji Wilcoxon. Keputusan statistik menggunakan taraf signifikansi 0,05 dan disertai interval kepercayaan bila keluaran perangkat lunak memungkinkan (Creswell, 2014; Sugiyono, 2013).
Ketiga, besarnya perubahan dilaporkan sebagai ukuran pengaruh agar makna praktis tidak hanya ditentukan oleh nilai p. Untuk uji-t berpasangan digunakan Cohen's d untuk data berpasangan (dz), yaitu rerata skor selisih dibagi simpangan baku skor selisih. Jika uji Wilcoxon digunakan, ukuran pengaruh nonparametrik dihitung dari statistik uji yang dihasilkan perangkat lunak. Nilai ukuran pengaruh dilaporkan bersama arah perubahan dan ditafsirkan secara hati-hati dalam konteks kelas penelitian. Pelaporan ukuran pengaruh dan interval kepercayaan diperlukan untuk menunjukkan makna praktis hasil, bukan hanya signifikansi statistik (Creswell, 2014).
dz = Rerata Skor Selisih / Simpangan Baku Skor Selisih
Keempat, N-Gain ternormalisasi digunakan sebagai analisis pendukung untuk menggambarkan proporsi peningkatan terhadap peluang peningkatan maksimum, bukan sebagai satu-satunya dasar penetapan efektivitas (Hake, 1998). Rumusnya sebagai berikut:
N-Gain = (Skor Posttest − Skor Pretest) / (Skor Maksimal − Skor Pretest)
Hasil N-Gain diinterpretasikan dengan kriteria sebagai berikut.
| Nilai N-Gain | Kategori | Interpretasi Peningkatan |
|---|---|---|
| g ≥ 0,70 | Tinggi | Peningkatan tinggi |
| 0,30 ≤ g < 0,70 | Sedang | Peningkatan sedang |
| g < 0,30 | Rendah | Peningkatan rendah |
Dengan urutan tersebut, simpulan efektivitas kuantitatif terutama didasarkan pada arah dan signifikansi uji perbedaan serta besarnya ukuran pengaruh. N-Gain melengkapi interpretasi tentang tingkat peningkatan ternormalisasi. Keterbatasan desain satu kelompok—termasuk kemungkinan pengaruh faktor di luar produk—dipertimbangkan pada penafsiran dan diperdalam melalui data wawancara serta observasi.
3. Analisis Respons Siswa
Data respons siswa terhadap produk dianalisis menggunakan teknik persentase dengan rumus yang sama seperti analisis validitas. Hasil persentase diinterpretasikan dengan kriteria: 81–100% (sangat positif), 61–80% (positif), 41–60% (cukup positif), 21–40% (kurang positif), dan 0–20% (tidak positif).
4. Analisis Data Kualitatif
Data kualitatif dari observasi, wawancara, serta komentar validator dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (Miles & Huberman, 1994). Untuk fase penjelas, kode dan tema diarahkan pada alasan perubahan skor, faktor pendukung dan penghambat, pengalaman penggunaan fitur, serta perbedaan antarprofil siswa.
5. Integrasi Data Kuantitatif dan Kualitatif
Integrasi dilakukan setelah analisis kedua fase selesai melalui matriks tampilan gabungan. Setiap temuan kuantitatif—misalnya nilai N-Gain keseluruhan, perubahan pada empat indikator minat, hasil uji perbedaan, dan respons penggunaan—disandingkan dengan tema wawancara siswa, keterangan guru, dan catatan observasi yang relevan. Hasil integrasi diklasifikasikan sebagai saling menguatkan, saling melengkapi, atau tidak selaras. Ketidakselarasan tidak dihapus, tetapi ditelaah sebagai temuan yang memerlukan penjelasan kontekstual. Simpulan efektivitas produk ditarik dari hasil kuantitatif bersama penjelasan kualitatif, bukan dari salah satu jenis data secara terpisah (Creswell, 2014; Creswell & Creswell, 2018).
G. Indikator Keberhasilan Penelitian
Penelitian dinyatakan berhasil apabila memenuhi tiga indikator berikut. Pertama, dari aspek pengembangan, prosedur tujuh langkah Borg dan Gall terlaksana secara sistematis dan menghasilkan produk media pembelajaran yang utuh berupa kelas Google Classroom yang berisi materi, lembar kerja, kuis, dan konten visual Canva for Education untuk materi Perkembangan Islam di Indonesia. Kedua, dari aspek validitas, produk memperoleh skor validasi minimal dengan kategori Valid (≥ 61%) dari ketiga validator ahli (ahli materi, ahli media, dan ahli desain pembelajaran). Ketiga, dari aspek efektivitas, skor posttest lebih tinggi daripada skor pretest, uji-t berpasangan atau uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan (nilai p < 0,05), dan ukuran pengaruh menunjukkan perubahan yang bermakna secara praktis dalam konteks kelas. Nilai N-Gain dilaporkan sebagai bukti pendukung dan tidak menjadi syarat tunggal efektivitas. Simpulan akhir juga mempertimbangkan penjelasan kualitatif serta keterbatasan desain satu kelompok.