Pendahuluan
A. Latar Belakang
Era Revolusi Industri 4.0 telah membawa transformasi digital yang menjadi keniscayaan dan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk sektor pendidikan (Schwab, 2016). Perubahan ini tidak sekadar bersifat teknis, melainkan berdampak sistemik terhadap cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Era ini ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang melahirkan generasi digital native, yakni generasi yang tumbuh dan berkembang di dalam ekosistem digital. Kondisi ini mendorong munculnya konsep Pendidikan 4.0, sebuah paradigma pendidikan yang mengintegrasikan teknologi digital secara holistik ke dalam proses pembelajaran (Bonfield dkk., 2020). Dalam paradigma ini, teknologi tidak lagi dipandang sebagai alat bantu pelengkap, melainkan sebagai elemen esensial yang mengubah secara fundamental cara peserta didik memperoleh, mengolah, mengonstruksi, dan mendistribusikan pengetahuan.
Pendidikan 4.0 menekankan pentingnya pembelajaran yang relevan dengan tuntutan zaman dan berorientasi pada pengembangan kompetensi abad ke-21. Proses belajar mengajar dituntut bertransformasi dari model konvensional yang berpusat pada guru menuju model yang lebih interaktif, fleksibel, dan personal (Mulyani dkk., 2021). Transformasi ini mencakup digitalisasi tugas-tugas pendidikan (Starichenko & Sardak, 2020), penyediaan platform pembelajaran daring, serta penyesuaian strategi pembelajaran terhadap karakteristik generasi digital (Prensky, 2001). Secara perkembangan kognitif, siswa madrasah aliyah yang berada pada rentang usia tujuh belas hingga delapan belas tahun memasuki tahap operasi formal yang ditandai oleh kemampuan berpikir hipotetis, abstrak, dan sistematis (Piaget & Inhelder, 1969). Karakteristik perkembangan ini menuntut strategi pembelajaran yang berorientasi pada zona perkembangan proksimal (zone of proximal development) melalui scaffolding dan interaksi kolaboratif (Vygotsky, 1978). Dalam konteks ini, guru memiliki peran sentral sebagai penggerak utama pembelajaran abad ke-21, sehingga dituntut bukan hanya menguasai teknologi, melainkan juga mampu mengintegrasikannya secara pedagogis ke dalam praktik belajar mengajar (Kearney dkk., 2017).
Seiring dengan pesatnya perkembangan masyarakat digital, literasi teknologi telah menjadi kompetensi fundamental yang harus dimiliki setiap individu. Teknologi telah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya (Fraillon dkk., 2014). Oleh karena itu, institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk membekali peserta didik dengan kompetensi literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman etis dalam menggunakan teknologi. Penguatan nilai-nilai tersebut menjadi esensial agar generasi muda mampu menghadapi tantangan global secara bertanggung jawab.
Tuntutan transformasi tersebut menempatkan kompetensi digital guru sebagai variabel kunci keberhasilan pembelajaran abad ke-21. Penguasaan keterampilan digital kini merupakan karakteristik wajib bagi setiap individu profesional, termasuk guru, namun kenyataannya belum semua pendidik memiliki kesiapan yang setara dalam memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran (Sharov dkk., 2024). Pengembangan kompetensi digital guru bukan sekadar respons teknis, melainkan merupakan jawaban atas tantangan informasi global yang menyertai revolusi industri keempat, sehingga menuntut peningkatan kapasitas sumber daya manusia secara berkelanjutan (Niyazova dkk., 2022). Dalam konteks ini, adopsi teknologi oleh guru tidak berhenti pada penguasaan perangkat, tetapi menuntut kemampuan mengintegrasikan teknologi ke dalam praktik pedagogis secara bermakna; tanpa integrasi pedagogis yang tepat, investasi teknologi cenderung tidak berdampak signifikan terhadap kualitas pembelajaran (Kearney dkk., 2017). Kesenjangan antara ketersediaan teknologi dan kesiapan pedagogis guru inilah yang menjadi salah satu titik krusial yang perlu dijembatani melalui pengembangan media pembelajaran yang terancang secara sistematis.
Menghadapi dinamika tersebut, lembaga pendidikan perlu melakukan penyesuaian dalam dua ranah utama (Azizah & Subiyantoro, 2023). Pertama, pada ranah filosofis dan substantif, lembaga pendidikan harus berfungsi sebagai blueprint dalam membentuk peserta didik yang memiliki keseimbangan antara spiritualitas, kecerdasan intelektual, dan keterampilan praktis yang relevan bagi pengembangan diri, masyarakat, bangsa, dan agama. Pendidikan juga memikul tanggung jawab mulia untuk membentuk karakter, akhlak mulia, dan kecakapan sosial peserta didik. Kedua, pada ranah teknis dan operasional, lembaga pendidikan harus mempersiapkan infrastruktur yang memadai, baik dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas maupun dalam penyediaan sarana teknologi, pengembangan kurikulum berbasis digital, dan penguatan kompetensi pedagogis serta teknologis tenaga pendidik agar sejalan dengan tuntutan perkembangan zaman.
Integrasi teknologi dalam pembelajaran tidak cukup dilakukan dengan menyediakan perangkat. Proses tersebut bersifat multidimensional karena melibatkan perangkat, guru, siswa, pengelola sekolah, dan program pendidikan (Akcil dkk., 2021). Akcil dkk. (2021) juga mencatat bahwa pelatihan guru dalam integrasi teknologi dan penerapan pedagogis dapat tertinggal meskipun sekolah telah berinvestasi pada teknologi. Selain itu, keterbatasan akses teknologi merupakan salah satu hambatan bagi integrasi yang efektif dan berkelanjutan (Akcil dkk., 2021). Oleh sebab itu, pengembangan media pembelajaran PAI perlu menghubungkan pemilihan perangkat digital dengan tujuan, aktivitas, karakteristik materi, dan asesmen pembelajaran, bukan sekadar memindahkan bahan ajar cetak ke media digital.
Materi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kelas XII tentang Perkembangan Islam di Indonesia mencakup situasi sebelum kedatangan Islam, jalur masuk Islam, strategi dakwah, dan fase perkembangan Islam di Indonesia (Arifin, 2020). Susunan materi tersebut memuat narasi historis, urutan waktu, wilayah, tokoh, dan hubungan antarkejadian. Karakter ini membuka peluang penyajian materi melalui peta, lini masa, infografis, dan video pendek agar hubungan spasial serta kronologis lebih mudah diamati peserta didik. Dalam teori kognitif pembelajaran multimedia, pembelajaran multimedia didefinisikan sebagai pembelajaran melalui kata-kata dan gambar; gambar dapat berupa ilustrasi, foto, peta, grafik, animasi, atau video (Mayer, 2014). Karena itu, pengembangan media visual untuk materi Perkembangan Islam di Indonesia memiliki dasar konseptual yang relevan, tetapi efektivitasnya dalam meningkatkan minat belajar tetap harus diuji secara empiris dalam penelitian ini.
Salah satu alternatif perangkat yang dapat digunakan untuk mengelola pembelajaran digital ialah Google Workspace for Education. Platform ini menyediakan aplikasi yang dapat diakses melalui satu akun dan digunakan untuk fungsi pembelajaran yang berbeda (Akcil dkk., 2021). Google Classroom dapat digunakan untuk mengelola materi dan tugas; Google Docs untuk penyuntingan dokumen kolaboratif; Google Forms untuk kuis dan angket; Google Drive untuk penyimpanan; serta Google Meet untuk pertemuan sinkron. Akcil dkk. (2021) memetakan perangkat Google Workspace ke dalam aktivitas instruksional berdasarkan sembilan peristiwa pembelajaran Gagné, sehingga pemanfaatannya dapat diarahkan oleh kebutuhan pedagogis, bukan semata-mata oleh ketersediaan fitur.
Untuk melengkapi kebutuhan siswa terhadap konten visual, Canva for Education menyediakan beragam template presentasi, infografis, poster, video pendek, dan lembar kerja yang dapat digunakan guru untuk membuat materi pembelajaran yang lebih menarik. Platform ini sangat relevan untuk mendukung pembelajaran PAI yang sering memuat konsep abstrak, nilai akhlak, dan rangkaian sejarah Islam, karena visualisasi membantu memperjelas materi dan memperkuat daya ingat siswa (Fitriyah dkk., 2024). Penelitian menunjukkan bahwa Canva for Education memungkinkan siswa meningkatkan kreativitas, kolaborasi, kemampuan berpikir kritis, serta menghasilkan karya visual yang berkualitas melalui penggunaan fitur desain yang mudah diakses (Hinchcliff & Mehmet, 2023). Canva for Education juga dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam aktivitas kelas karena siswa dapat bekerja bersama secara daring maupun luring menggunakan satu kanvas kerja yang sama. Pada konteks materi sejarah, fitur Canva for Education sangat membantu menghadirkan peta jalur dakwah, infografis fase Islamisasi, dan kartu visual tokoh yang menjadikan materi sejarah lebih hidup dan menarik bagi peserta didik.
Integrasi Google Workspace for Education dan Canva for Education dirancang sebagai ekosistem pembelajaran digital dengan pembagian fungsi yang jelas. Google Classroom menjadi pusat pengelolaan materi, aktivitas, dan penilaian; Docs, Forms, Drive, Meet, dan My Maps mendukung kolaborasi, pengumpulan data, penyimpanan, komunikasi, serta pemetaan; sedangkan Canva for Education digunakan untuk memproduksi dan menyajikan konten visual serta presentasi. Potensi integrasi tersebut untuk meningkatkan minat belajar belum diperlakukan sebagai fakta, tetapi akan diuji melalui proses validasi dan uji lapangan dalam penelitian ini.
Alasan penggunaan Google Workspace for Education dan Canva for Education dalam penelitian ini adalah karena penggunaannya bersifat gratis. Di halaman resminya, Google Workspace for Education menyediakan paket Education Fundamentals yang dapat diakses tanpa biaya oleh institusi yang memenuhi kualifikasi, meliputi layanan komunikasi dan kolaborasi seperti Classroom, Meet, dan Drive dengan kapasitas penyimpanan gabungan (pooled storage) sebesar 100 TB untuk seluruh organisasi (Google Workspace for Education, t.t.). Hal ini didukung pula oleh Canva for Education yang menggratiskan akses penuh ke fitur premium (Canva Pro) bagi guru dan siswa jenjang K-12, termasuk akses ke jutaan gambar, video, dan template pendidikan tanpa membebankan biaya lisensi atau langganan, sehingga memungkinkan efisiensi anggaran sekolah yang signifikan dalam mengadopsi teknologi pembelajaran digital (Canva for Schools and Districts, t.t.).
Sejumlah penelitian memberikan dasar empiris bagi pemanfaatan platform digital dalam pembelajaran. Tinjauan literatur Akcil dkk. (2021) menyimpulkan bahwa integrasi teknologi merupakan proses multidimensional dan merekomendasikan pemetaan perangkat Google Workspace ke dalam tahapan pembelajaran agar setiap fitur digunakan secara terarah (Akcil dkk., 2021). Secara khusus pada pemanfaatan Google Workspace for Education, survei terhadap dosen di Ukraina menunjukkan bahwa mayoritas responden, yakni sekitar sembilan puluh satu persen, menilai positif dampak perangkat Google Workspace for Education terhadap efektivitas metode pengajaran (Sharov dkk., 2024). Temuan ini diperkuat oleh Nurkhin dan Rohman (2023) yang menemukan bahwa fitur-fitur Google Workspace for Education mendorong mahasiswa untuk berkolaborasi secara aktif dalam menyelesaikan tugas, sekaligus memudahkan pengajar memantau aktivitas belajar secara transparan (Nurkhin & Rohman, 2023). Pada ranah media visual, Fitriyah dkk. (2024) menguji media animasi interaktif berbasis Canva pada 56 siswa madrasah ibtidaiyah dengan desain kuasi eksperimen. Hasil uji menunjukkan perbedaan minat belajar yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol (t = -27,117; p < 0,001) (Fitriyah dkk., 2024). Bunari dkk. (2024) meneliti media flipbook, minat belajar, motivasi, dan hasil belajar pada 64 siswa sekolah menengah; penelitian tersebut menemukan kontribusi media flipbook terhadap hasil belajar sebesar 25,6% dan kontribusi minat belajar terhadap hasil belajar sebesar 19,5% (Bunari dkk., 2024). Bukti-bukti tersebut tidak secara langsung membuktikan efektivitas integrasi Google Workspace for Education dan Canva for Education pada pembelajaran SKI, tetapi menunjukkan bahwa platform terintegrasi dan media visual memiliki potensi yang layak diuji lebih lanjut. Berdasarkan penelusuran penelitian terdahulu yang dihimpun dalam kajian ini, studi yang ditemukan masih membahas Google Workspace, Canva, atau media digital secara terpisah, serta belum ada yang secara spesifik mengintegrasikan keduanya pada pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Oleh sebab itu, penelitian ini menempatkan integrasi Google Workspace for Education dan Canva for Education pada materi SKI kelas XII sebagai ruang pengembangan yang akan diuji validitas dan efektivitasnya.
MAN 1 Mojokerto ditetapkan sebagai lokasi penelitian karena penelitian ini secara khusus diarahkan pada pengembangan media pembelajaran SKI untuk siswa kelas XII di madrasah tersebut. Kesesuaian kondisi sarana, akses internet, akun institusional, kesiapan guru, dan dukungan madrasah akan dipastikan melalui tahap penelitian dan pengumpulan informasi sebelum produk dikembangkan. Dengan redaksi ini, penetapan lokasi tidak diperlakukan sebagai bukti bahwa seluruh prasyarat implementasi telah terpenuhi sebelum data studi pendahuluan diperoleh.
Berdasarkan kebutuhan tersebut, penelitian ini akan mengembangkan paket media pembelajaran SKI kelas XII dengan mengintegrasikan Google Workspace for Education dan Canva for Education pada materi Bab I tentang Perkembangan Islam di Indonesia. Kelayakan akses institusional, perangkat, jaringan, kesiapan guru, dan kebutuhan siswa akan dipetakan lebih dahulu melalui analisis kebutuhan. Produk awal kemudian divalidasi, diuji secara terbatas, direvisi, dan diterapkan pada satu kelas untuk mengukur perubahan minat belajar. Penelitian menggunakan metode campuran dengan desain sekuensial eksplanatori: hasil kuantitatif dianalisis terlebih dahulu, lalu wawancara siswa dan guru digunakan untuk menjelaskan pola peningkatan, ketidakberubahan, atau hasil yang menyimpang (Creswell, 2014).
Berdasarkan pemaparan peneliti di atas, maka diangkatlah judul:
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan yang menjadi dasar penelitian ini:
- Sejumlah penelitian pada konteks madrasah menunjukkan bahwa pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam masih dapat didominasi metode konvensional yang bersifat tekstual, ceramah, dan hafalan (Fikri, 2025). Apakah kecenderungan yang sama terjadi di MAN 1 Mojokerto, serta bagaimana kesesuaiannya dengan karakteristik dan kebutuhan siswa kelas XII, akan diverifikasi melalui observasi, wawancara, dan angket analisis kebutuhan.
- Materi Perkembangan Islam di Indonesia memuat narasi historis, jalur masuk Islam, strategi dakwah, dan fase perkembangan Islam (Arifin, 2020). Karakter materi tersebut memerlukan media yang dapat memperlihatkan hubungan kronologis dan spasial secara lebih konkret; pengaruh media yang dikembangkan terhadap minat belajar akan diuji dalam penelitian ini.
- Integrasi teknologi dalam pembelajaran merupakan proses multidimensional yang melibatkan perangkat, guru, siswa, pengelola sekolah, dan program pendidikan; karena itu, kesiapan pedagogis dan teknologis guru perlu diperhatikan dalam pengembangan media (Akcil dkk., 2021).
- Berdasarkan sumber primer yang dihimpun dalam korpus penelitian, kajian Google Workspace for Education dan Canva for Education masih lebih banyak dilakukan secara terpisah (Akcil dkk., 2021; Hinchcliff & Mehmet, 2023). Karena itu, integrasi keduanya sebagai satu paket media pembelajaran SKI perlu dirancang dan diuji secara kontekstual.
- Ketersediaan media pembelajaran SKI yang secara khusus mengintegrasikan Google Workspace for Education dan Canva for Education pada materi Perkembangan Islam di Indonesia di MAN 1 Mojokerto belum diasumsikan. Kondisi awal, media yang telah digunakan, dan kebutuhan pengembangannya akan dipastikan melalui tahap penelitian dan pengumpulan informasi.
2. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, ruang lingkup penelitian ini dibatasi sebagai berikut:
- Penelitian ini difokuskan pada pengembangan media pembelajaran yang mengintegrasikan platform Google Workspace for Education dan Canva for Education. Penelitian tidak mencakup pengembangan perangkat lunak atau platform baru di luar kedua layanan tersebut.
- Subjek penelitian terbatas pada siswa kelas XII dan guru Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah Negeri 1 Mojokerto. Oleh karena itu, temuan penelitian bersifat kontekstual dan tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh madrasah di Indonesia.
- Mata pelajaran yang menjadi fokus penelitian adalah Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) sebagai bagian dari rumpun Pendidikan Agama Islam di madrasah aliyah.
- Materi pembelajaran yang dikembangkan dibatasi pada Bab I buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII tentang Perkembangan Islam di Indonesia, yang meliputi: (a) situasi dan kondisi sebelum kedatangan Islam di Indonesia, (b) jalur masuknya Islam di Indonesia, (c) strategi dakwah Islam di Indonesia, dan (d) fase perkembangan Islam di Indonesia.
- Buku acuan yang digunakan adalah Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII (M. Samsul Arifin, 2020) terbitan Direktorat KSKK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI (ISBN 978-623-6687-58-1).
- Variabel terikat yang diukur dalam penelitian ini adalah minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.
- Model pengembangan yang digunakan adalah model Borg and Gall yang disederhanakan menjadi tujuh langkah, sesuai dengan ruang lingkup penelitian tesis Magister.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah yang telah diuraikan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
- Bagaimana pengembangan media pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education untuk siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto?
- Bagaimana validitas media pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education untuk siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto?
- Bagaimana efektivitas media pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education dalam meningkatkan minat belajar siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
- Mendeskripsikan proses pengembangan media pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education untuk siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto.
- Menganalisis validitas media pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education untuk siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto.
- Menguji efektivitas media pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education dalam meningkatkan minat belajar siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun praktis bagi pengembangan ilmu pengetahuan, dunia pendidikan, dan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di madrasah aliyah.
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sebagai berikut:
- Memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dalam bidang pengembangan media pembelajaran Pendidikan Agama Islam, khususnya pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di tingkat madrasah aliyah.
- Memberikan kontribusi konseptual mengenai integrasi platform digital Google Workspace for Education dan Canva for Education dalam satu kerangka media pembelajaran yang sistematis untuk pembelajaran agama berbasis teknologi.
- Menjadi referensi akademis bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi digital di madrasah, terutama yang berorientasi pada peningkatan minat belajar siswa.
- Memperkuat kajian teoretis mengenai pemanfaatan Pendidikan 4.0 dalam konteks Pendidikan Agama Islam yang selama ini masih relatif terbatas dibandingkan dengan mata pelajaran umum.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi berbagai pihak sebagai berikut:
- Bagi Siswa. Memberikan pengalaman belajar Sejarah Kebudayaan Islam yang lebih menarik, interaktif, dan visual sehingga dapat meningkatkan minat belajar siswa, khususnya pada materi Perkembangan Islam di Indonesia.
- Bagi Guru. Menyediakan media pembelajaran yang siap digunakan dan dapat dikembangkan lebih lanjut, serta meningkatkan kompetensi pedagogis dan teknologis guru Sejarah Kebudayaan Islam dalam memanfaatkan platform digital.
- Bagi Madrasah. Memberikan kontribusi pada peningkatan mutu pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MAN 1 Mojokerto, sekaligus menjadi momentum bagi madrasah untuk mengadopsi Google Workspace for Education dan Canva for Education secara institusional.
- Bagi Peneliti. Menambah pengalaman akademis dalam merancang penelitian pengembangan (R&D) sekaligus memperdalam pemahaman tentang integrasi teknologi digital dalam pembelajaran agama.
- Bagi Peneliti Selanjutnya. Menjadi rujukan dan pijakan untuk pengembangan media pembelajaran berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education pada mata pelajaran lain, jenjang pendidikan lain, atau materi Sejarah Kebudayaan Islam yang lebih luas.
F. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahan penafsiran dan memberikan pemahaman yang jelas terhadap istilah-istilah kunci dalam penelitian ini, berikut diuraikan definisi operasional yang digunakan:
- Pengembangan dalam penelitian ini merujuk pada serangkaian kegiatan sistematis yang dilakukan untuk menghasilkan produk media pembelajaran baru atau menyempurnakan media yang sudah ada. Pengembangan dilakukan dengan mengadaptasi model Borg and Gall yang disederhanakan menjadi tujuh langkah, yaitu: penelitian dan pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan bentuk awal produk, uji coba lapangan awal, revisi produk, uji coba lapangan utama, dan revisi produk akhir.
- Media Pembelajaran dalam penelitian ini adalah paket media digital terintegrasi untuk materi Perkembangan Islam di Indonesia yang mencakup ruang kelas Google Classroom, konten visual dan presentasi Canva for Education, lembar kerja Google Docs, asesmen Google Forms, penyimpanan Google Drive, pertemuan Google Meet bila diperlukan, serta pemetaan Google My Maps.
- Google Workspace for Education dalam penelitian ini didefinisikan secara operasional sebagai paket layanan Google yang digunakan untuk mengelola kelas, mendistribusikan materi, memfasilitasi kolaborasi, menyimpan berkas, melaksanakan pertemuan daring, dan menyelenggarakan asesmen. Aplikasi yang digunakan dibatasi pada Google Classroom, Docs, Forms, Drive, Meet, dan My Maps (Google Workspace for Education, t.t.; Akcil dkk., 2021).
- Canva for Education dalam penelitian ini didefinisikan secara operasional sebagai platform desain visual yang digunakan untuk memproduksi presentasi, infografis, poster, lembar kerja, peta, lini masa, dan video pendek. Ketersediaan akses pendidikan tanpa biaya bagi guru dan siswa yang memenuhi persyaratan mengacu pada informasi resmi Canva (Canva for Schools and Districts, t.t.).
- Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dalam penelitian ini merujuk pada mata pelajaran SKI kelas XII dan dibatasi pada Bab I buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII tentang Perkembangan Islam di Indonesia. Ruang lingkupnya meliputi situasi sebelum kedatangan Islam, jalur masuk Islam, strategi dakwah, dan fase perkembangan Islam di Indonesia (Arifin, 2020).
- Validitas dalam penelitian ini adalah tingkat kelayakan media pembelajaran berdasarkan penilaian para ahli, yang meliputi ahli materi Sejarah Kebudayaan Islam, ahli media pembelajaran, dan ahli desain pembelajaran. Validitas diukur menggunakan instrumen angket validasi dengan skala Likert empat poin dan dianalisis secara kuantitatif dengan kategori sangat valid, valid, cukup valid, atau tidak valid.
- Efektivitas dalam penelitian ini adalah tingkat keberhasilan media pembelajaran dalam meningkatkan minat belajar siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto. Analisis utamanya ialah uji perbedaan skor minat sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) penggunaan media melalui uji-t berpasangan atau uji Wilcoxon sesuai distribusi data. Besarnya perubahan dilaporkan dengan ukuran pengaruh, sedangkan N-Gain digunakan sebagai analisis pendukung untuk menggambarkan peningkatan ternormalisasi.
- Minat Belajar adalah kecenderungan psikologis siswa berupa perasaan senang, ketertarikan, perhatian, dan keterlibatan aktif terhadap mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Dalam penelitian ini, minat belajar diukur melalui empat indikator utama, yaitu: perasaan senang, ketertarikan, perhatian, dan keterlibatan, dengan instrumen angket minat belajar berskala Likert.
- MAN 1 Mojokerto adalah Madrasah Aliyah Negeri 1 Mojokerto yang menjadi lokasi penelitian. Kesiapan fasilitas, jaringan, akun, guru, dan siswa untuk implementasi produk akan diverifikasi melalui analisis kebutuhan sebelum pengembangan.
G. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan
Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah paket media pembelajaran digital terintegrasi yang dirancang untuk memvisualisasikan materi Sejarah Kebudayaan Islam kelas XII tentang Perkembangan Islam di Indonesia melalui ekosistem Google Workspace for Education dan Canva for Education. Spesifikasi produk dijabarkan sebagai berikut.
1. Bentuk Produk
Produk berbentuk paket media pembelajaran digital yang terdiri atas tiga komponen utama. Pertama, ruang kelas digital berupa kelas Google Classroom yang berfungsi sebagai pusat manajemen pembelajaran, mencakup distribusi materi, penugasan, diskusi, dan penilaian. Kedua, bank konten visual berupa kumpulan aset Canva for Education yang tersimpan dalam folder Google Drive bersama, mencakup peta tematik, lini masa, infografis, kartu konsep, poster keteladanan, video pendek, dan template tugas siswa. Ketiga, buku panduan penggunaan dalam format PDF terpisah untuk guru dan siswa yang disertakan di dalam kelas Google Classroom. Seluruh komponen diakses melalui tautan undangan kelas Google Classroom dan tautan berbagi Google Drive.
2. Materi Pembelajaran
Materi yang dikembangkan adalah Bab I buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII tentang Perkembangan Islam di Indonesia yang disusun M. Samsul Arifin sesuai kurikulum KSKK Madrasah Tahun 2020 (ISBN 978-623-6687-58-1). Materi terbagi atas empat sub-pokok: (a) situasi dan kondisi Indonesia sebelum kedatangan Islam; (b) jalur masuknya Islam di Indonesia melalui perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian, dan dakwah; (c) strategi dakwah Islam di Indonesia; serta (d) fase perkembangan Islam di Indonesia.
3. Komponen Google Workspace for Education
Aplikasi Google Workspace for Education yang dimanfaatkan dalam produk meliputi: (a) Google Classroom sebagai platform manajemen pembelajaran utama untuk distribusi materi, penugasan, diskusi, dan penilaian; (b) Google Docs untuk lembar kerja kolaboratif dan jurnal refleksi siswa; (c) Google Forms untuk pretest, posttest, kuis, dan angket minat belajar; (d) Google Drive untuk penyimpanan dan berbagi seluruh aset pembelajaran; (e) Google Meet untuk pertemuan tatap muka jarak jauh apabila diperlukan; serta (f) Google My Maps untuk pemetaan kolaboratif jalur masuk Islam ke Nusantara dan lokasi pusat-pusat dakwah awal. Fungsi presentasi tidak menggunakan Google Slides karena seluruh kebutuhan presentasi materi dan proyek siswa dipenuhi oleh Canva for Education yang memiliki kapabilitas serupa dengan kualitas visual yang lebih kaya.
4. Komponen Canva for Education
Canva for Education berperan sebagai studio kreatif untuk produksi seluruh konten visual dan presentasi pembelajaran. Jenis akun dan mekanisme akses yang digunakan di MAN 1 Mojokerto—akun institusional, akun pendidikan yang memenuhi syarat, atau alternatif akses yang tersedia—ditetapkan setelah verifikasi pada analisis kebutuhan. Aset visual yang dikembangkan diuraikan pada tabel berikut.
| Tipe Aset | Topik | Estimasi Jumlah |
|---|---|---|
| Peta tematik | Jalur masuk Islam ke Nusantara (abad ke-7 hingga ke-13 Masehi) | 2 buah |
| Lini masa | Fase Islamisasi Indonesia (abad ke-7 hingga ke-16 Masehi) | 1 buah |
| Infografis | Enam jalur dakwah (perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian, dakwah) | 6 buah |
| Kartu konsep | Tokoh-tokoh dakwah awal dan teori masuknya Islam | 6 buah |
| Poster | Keteladanan strategi dakwah damai | 3 buah |
| Video pendek | Pengantar setiap sub-pokok materi | 4 buah |
| Presentasi materi | Slide pembelajaran untuk setiap sub-pokok | 4 buah |
| Template tugas siswa | Untuk proyek akhir kelompok | 3 buah |
| Total perkiraan aset | 29 buah |
Estimasi jumlah aset di atas merupakan rancangan awal yang akan disesuaikan pada tahap pengembangan produk berdasarkan hasil analisis kebutuhan dan masukan validator ahli.
5. Spesifikasi Teknis
Spesifikasi teknis produk dirancang untuk memastikan kemudahan akses dan implementasi di lingkungan madrasah. Pertama, seluruh komponen produk berbasis komputasi awan sehingga tidak memerlukan instalasi aplikasi tambahan. Kedua, perangkat minimum yang dibutuhkan adalah komputer, laptop, atau gawai dengan peramban modern (Chrome, Safari, Edge, atau Firefox versi terbaru) dan koneksi internet yang memadai. Ketiga, jenis akun Google dan Canva yang digunakan disesuaikan dengan hasil verifikasi akun serta kebijakan akses di MAN 1 Mojokerto. Keempat, bahasa antarmuka dan konten produk menggunakan bahasa Indonesia. Kelima, tipografi mengombinasikan jenis huruf serif untuk konten naratif dan sans-serif untuk judul serta antarmuka, mengikuti prinsip kontras pada teori kognitif pembelajaran multimedia (Mayer, 2014). Keenam, skema warna menggunakan palet hijau-emas yang kohesif dengan identitas Islami akademik. Ketujuh, aksesibilitas konten mengikuti panduan kontras teks-latar pada standar Web Content Accessibility Guidelines (WCAG) tingkat AA, dengan ukuran huruf minimum empat belas titik untuk konten utama.
6. Sasaran Pengguna
Sasaran pengguna utama produk adalah siswa kelas XII MAN 1 Mojokerto yang berada pada usia tujuh belas hingga delapan belas tahun. Pada usia tersebut siswa berada pada tahap operasi formal menurut Piaget yang ditandai oleh kemampuan berpikir hipotetis dan abstrak (Piaget & Inhelder, 1969), serta tergolong sebagai generasi digital native yang akrab dengan teknologi digital sejak usia dini (Prensky, 2001). Sasaran pengguna pendukung adalah guru pengampu mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas XII di MAN 1 Mojokerto yang akan memfasilitasi penggunaan produk dalam pembelajaran.
H. Sistematika Pembahasan
Untuk memberikan gambaran utuh mengenai alur penelitian dan penulisan tesis ini, sistematika pembahasan disusun dalam lima bab sebagai berikut:
- Bab I Pendahuluan. Bab ini memuat latar belakang masalah, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, dan sistematika pembahasan. Bab ini berfungsi sebagai pengantar yang memberikan kerangka pikir dan arah penelitian secara keseluruhan.
- Bab II Kajian Teori. Bab ini memaparkan landasan teoretis penelitian yang meliputi konsep media pembelajaran, teori belajar yang relevan (Piaget, Vygotsky, dan teori kognitif Mayer), Google Workspace for Education, Canva for Education, integrasi keduanya, minat belajar, model pengembangan Borg and Gall, serta kerangka berpikir penelitian. Bab ini juga memuat tinjauan penelitian terdahulu yang relevan.
- Bab III Metode Penelitian. Bab ini menjelaskan R&D dengan metode campuran berdesain sekuensial eksplanatori, prosedur pengembangan tujuh langkah Borg and Gall, lokasi dan subjek, instrumen analisis kebutuhan dan pengujian produk, validitas dan reliabilitas instrumen, teknik pengumpulan data, serta integrasi analisis kuantitatif dan kualitatif.
- Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. Bab ini memaparkan hasil penelitian yang meliputi: (a) deskripsi proses pengembangan media pembelajaran sesuai tujuh langkah Borg and Gall, (b) hasil uji validitas media oleh para ahli, dan (c) hasil uji efektivitas media dalam meningkatkan minat belajar siswa. Setiap hasil dianalisis dan dibahas dengan merujuk pada teori dan penelitian terdahulu.
- Bab V Penutup. Bab ini memuat simpulan yang menjawab rumusan masalah penelitian, implikasi penelitian baik secara teoretis maupun praktis, keterbatasan penelitian, dan saran bagi guru, madrasah, serta peneliti selanjutnya.
Bagian akhir tesis dilengkapi dengan daftar pustaka yang memuat seluruh sumber referensi yang dirujuk, serta lampiran yang berisi instrumen penelitian, hasil validasi, data uji coba, dokumentasi proses pengembangan, dan produk akhir media pembelajaran yang dihasilkan.