Pendahuluan
A. Latar Belakang
Era Revolusi Industri 4.0 telah membawa transformasi digital yang menjadi keniscayaan dan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk sektor pendidikan (Leshchenko dkk., 2017). Perubahan ini tidak sekadar bersifat teknis, melainkan berdampak sistemik terhadap cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Era ini ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang melahirkan generasi digital native, yakni generasi yang tumbuh dan berkembang di dalam ekosistem digital. Kondisi ini mendorong munculnya konsep Pendidikan 4.0, sebuah paradigma pendidikan yang mengintegrasikan teknologi digital secara holistik ke dalam proses pembelajaran (Bonfield dkk., 2020). Dalam paradigma ini, teknologi tidak lagi dipandang sebagai alat bantu pelengkap, melainkan sebagai elemen esensial yang mengubah secara fundamental cara peserta didik memperoleh, mengolah, mengonstruksi, dan mendistribusikan pengetahuan.
Pendidikan 4.0 menekankan pentingnya pembelajaran yang relevan dengan tuntutan zaman dan berorientasi pada pengembangan kompetensi abad ke-21. Proses belajar mengajar dituntut bertransformasi dari model konvensional yang berpusat pada guru menuju model yang lebih adaptif, interaktif, kolaboratif, dan berbasis teknologi (Mulyani dkk., 2021). Transformasi ini mencakup digitalisasi tugas-tugas pendidikan (Starichenko & Sardak, 2020), penyediaan platform pembelajaran daring, serta penyusunan strategi baru untuk menyesuaikan pola belajar generasi digital (Hashim dkk., 2022). Dalam konteks ini, guru memiliki peran sentral sebagai penggerak utama pembelajaran abad ke-21, sehingga dituntut bukan hanya menguasai teknologi, melainkan juga mampu mengintegrasikannya secara pedagogis ke dalam proses belajar mengajar (Beauchamp dkk., 2015).
Seiring dengan pesatnya perkembangan masyarakat digital, literasi teknologi telah menjadi kompetensi fundamental yang harus dimiliki setiap individu. Teknologi telah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya (Fraillon dkk., 2014). Oleh karena itu, institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk membekali peserta didik dengan kompetensi literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman etis dalam menggunakan teknologi. Penguatan nilai-nilai tersebut menjadi esensial agar generasi muda mampu menghadapi tantangan global secara bertanggung jawab.
Menghadapi dinamika tersebut, lembaga pendidikan perlu melakukan penyesuaian dalam dua ranah utama (Taufikurrahman, 2019). Pertama, pada ranah filosofis dan substantif, lembaga pendidikan harus berfungsi sebagai blueprint dalam membentuk peserta didik yang memiliki keseimbangan antara spiritualitas, kecerdasan intelektual, dan keterampilan praktis yang relevan bagi pengembangan diri, masyarakat, bangsa, dan agama. Pendidikan juga memikul tanggung jawab mulia untuk membentuk karakter, akhlak mulia, dan kecakapan sosial peserta didik. Kedua, pada ranah teknis dan operasional, lembaga pendidikan harus mempersiapkan infrastruktur yang memadai, baik dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas maupun dalam penyediaan sarana teknologi, pengembangan kurikulum berbasis digital, dan penguatan kompetensi pedagogis serta teknologis tenaga pendidik agar sejalan dengan tuntutan perkembangan zaman.
Meskipun penggunaan teknologi digital telah merambah berbagai sektor kehidupan, realitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di madrasah masih menghadapi berbagai tantangan dalam proses integrasinya dengan teknologi. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar madrasah masih menerapkan metode pembelajaran konvensional yang cenderung monoton, tekstual, dan berpusat pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. Model pembelajaran semacam ini menyebabkan pemanfaatan media digital interaktif belum berjalan optimal. Padahal, peserta didik saat ini adalah generasi digital native yang cenderung lebih responsif terhadap media dan pendekatan berbasis teknologi. Ketidaksesuaian antara karakteristik siswa abad ke-21 dengan model penyampaian materi yang tradisional menimbulkan kesenjangan dalam proses pembelajaran (Furroyda dkk., 2022). Data menunjukkan bahwa 60% guru di Indonesia masih belum mahir dalam teknologi informasi dan komunikasi (Pabbajah dkk., 2025). Belum meratanya literasi digital guru PAI dan keterbatasan dalam penguasaan perangkat teknologi menjadi penghambat dalam memanfaatkan peluang inovasi digital. Tantangan lain yang turut memengaruhi kualitas pembelajaran ialah keterbatasan infrastruktur seperti jaringan internet yang tidak stabil serta minimnya perangkat pendukung. Kondisi ini menunjukkan perlunya pengembangan media pembelajaran PAI yang relevan dan adaptif terhadap tuntutan era digital (Yuniarti dkk., 2023).
Permasalahan tersebut semakin terasa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di kelas XII Madrasah Aliyah, khususnya pada materi Perkembangan Islam di Indonesia. Materi ini sarat dengan narasi sejarah, kronologi peristiwa, jalur masuk Islam ke Nusantara, strategi dakwah, dan fase-fase Islamisasi yang sebagian besar disampaikan melalui teks naratif. Cara penyampaian yang dominan ceramah dan hafalan kerap membuat peserta didik kesulitan membangun gambaran utuh tentang proses historis Islamisasi yang berlangsung secara bertahap. Akibatnya, minat belajar siswa terhadap materi tersebut cenderung rendah dan SKI sering dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang membosankan. Padahal materi Perkembangan Islam di Indonesia memiliki potensi besar untuk divisualisasikan dalam bentuk peta jalur masuk Islam, lini masa fase Islamisasi, infografis strategi dakwah, dan video pendek yang dapat memperkuat daya tarik dan keterlibatan peserta didik. Keterbatasan media pembelajaran visual yang sistematis dan terintegrasi menjadi salah satu faktor yang membuat proses pembelajaran SKI di madrasah belum mampu menumbuhkan minat belajar secara optimal.
Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk menjawab tantangan tersebut ialah pemanfaatan Google Workspace for Education. Platform ini menyediakan berbagai aplikasi terintegrasi seperti Google Classroom, Google Docs, Google Slides, Google Meet, dan Google Forms. Google Classroom mendukung pengelolaan kelas dan tugas secara terstruktur, sedangkan Google Meet memfasilitasi pembelajaran sinkron jarak jauh (Thuan, 2024). Google Docs dan Google Slides memungkinkan kolaborasi waktu nyata sehingga siswa dapat bekerja bersama dalam satu dokumen atau presentasi. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Google Workspace for Education dapat meningkatkan keterlibatan belajar, memperkuat keterampilan digital, dan mempermudah proses evaluasi pembelajaran (Sharov, 2024). Selain itu, penggunaan Google Workspace for Education juga terbukti meningkatkan kolaborasi dan efisiensi kerja siswa maupun guru dalam berbagai konteks pendidikan (Nurkhin dkk., 2023).
Untuk melengkapi kebutuhan siswa terhadap konten visual, Canva for Education menyediakan beragam template presentasi, infografis, poster, video pendek, dan lembar kerja yang dapat digunakan guru untuk membuat materi pembelajaran yang lebih menarik. Platform ini sangat relevan untuk mendukung pembelajaran PAI yang sering memuat konsep abstrak, nilai akhlak, dan rangkaian sejarah Islam, karena visualisasi membantu memperjelas materi dan memperkuat daya ingat siswa (Fitriyah dkk., 2024). Penelitian menunjukkan bahwa Canva for Education memungkinkan siswa meningkatkan kreativitas, kolaborasi, kemampuan berpikir kritis, serta menghasilkan karya visual yang berkualitas melalui penggunaan fitur desain yang mudah diakses (Hinchcliff & Mehmet, 2023). Canva for Education juga dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam aktivitas kelas karena siswa dapat bekerja bersama secara daring maupun luring menggunakan satu kanvas kerja yang sama. Pada konteks materi sejarah, fitur Canva for Education sangat membantu menghadirkan peta jalur dakwah, infografis fase Islamisasi, dan kartu visual tokoh yang menjadikan materi sejarah lebih hidup dan menarik bagi peserta didik.
Dengan demikian, integrasi sinergis antara Google Workspace for Education dan Canva for Education menawarkan solusi komprehensif bagi transformasi pembelajaran PAI di era digital. Google Workspace for Education berperan sebagai sistem manajemen pembelajaran (Learning Management System) yang terstruktur untuk mengelola aktivitas kelas, memfasilitasi kolaborasi, dan melaksanakan asesmen secara sistematis. Di sisi lain, Canva for Education berfungsi sebagai studio kreatif yang memungkinkan guru dan siswa memproduksi konten pembelajaran yang kaya secara visual, estetis, dan bermakna. Sinergi kedua platform ini memungkinkan terciptanya ekosistem pembelajaran yang tidak hanya terorganisir dan efisien, tetapi juga kreatif, interaktif, dan mampu mengakomodasi keragaman gaya belajar peserta didik. Sinergi tersebut diharapkan dapat menumbuhkan minat belajar siswa terhadap materi SKI yang selama ini kerap dipandang sebagai materi hafalan.
Alasan penggunaan Google Workspace for Education dan Canva for Education dalam penelitian ini adalah karena penggunaannya bersifat gratis. Di halaman resminya, Google Workspace for Education menyediakan paket Education Fundamentals yang dapat diakses tanpa biaya oleh institusi yang memenuhi kualifikasi, meliputi layanan komunikasi dan kolaborasi seperti Classroom, Meet, dan Drive dengan kapasitas penyimpanan gabungan (pooled storage) sebesar 100 TB untuk seluruh organisasi (Google Workspace for Education, t.t.). Hal ini didukung pula oleh Canva for Education yang menggratiskan akses penuh ke fitur premium (Canva Pro) bagi guru dan siswa jenjang K-12, termasuk akses ke jutaan gambar, video, dan template pendidikan tanpa membebankan biaya lisensi atau langganan, sehingga memungkinkan efisiensi anggaran sekolah yang signifikan dalam mengadopsi teknologi pembelajaran digital (Canva for Schools and Districts, t.t.).
Beberapa penelitian telah mengkaji pemanfaatan teknologi digital dalam konteks pembelajaran, khususnya Google Workspace for Education. Akcil dkk. (2021) melalui studi tinjauan literatur menunjukkan bahwa Google Workspace for Education menjadi solusi penting dalam pembelajaran digital karena sifatnya yang mudah diakses, gratis, dan saling terintegrasi. Penelitian tersebut menekankan bahwa efektivitas Google Workspace for Education akan lebih optimal apabila dipetakan ke dalam kerangka desain instruksional yang sistematis sehingga setiap fitur dapat digunakan secara terarah mulai dari penyampaian materi, kolaborasi, hingga penilaian (Akcil dkk., 2021). Temuan tersebut sejalan dengan studi Nurkhin dkk. (2023) yang mengungkap bahwa penggunaan Google Workspace for Education dalam pembelajaran berbasis proyek mampu meningkatkan keterlibatan mahasiswa melalui aktivitas kolaboratif, pengelolaan tugas, dan penilaian digital, meskipun pemanfaatan beberapa fitur masih belum maksimal (Nurkhin dkk., 2023). Selain Google Workspace for Education, penelitian lain juga menyoroti penggunaan Canva for Education sebagai media pembelajaran. Fitriyah dkk. (2024) menemukan bahwa media animasi interaktif berbasis Canva for Education berpengaruh positif terhadap minat belajar siswa Madrasah Ibtidaiyah, sedangkan Hinchcliff dan Mehmet (2023) menekankan efektivitas Canva for Education dalam mendukung pembelajaran di perguruan tinggi. Meskipun demikian, penelitian-penelitian tersebut cenderung mengkaji masing-masing platform secara terpisah dan belum ditempatkan dalam konteks pembelajaran Pendidikan Agama Islam di madrasah aliyah. Hingga saat ini, belum ditemukan penelitian yang secara spesifik mengembangkan media pembelajaran SKI yang mengintegrasikan Google Workspace for Education dan Canva for Education secara sinergis dalam satu kerangka media pembelajaran yang sistematis untuk meningkatkan minat belajar siswa.
Penelitian ini dilaksanakan di MAN 1 Mojokerto dengan beberapa pertimbangan. Pertama, madrasah ini memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung implementasi teknologi digital. Kedua, ketersediaan staf yang cukup memungkinkan guru fokus pada proses penelitian tanpa terbebani pekerjaan berlebihan. Hal ini berbeda dengan kondisi di madrasah swasta yang seringkali terkendala keterbatasan sumber daya manusia. Ketiga, madrasah ini memiliki website resmi yang memudahkan proses pendaftaran akun Google Workspace for Education dan Canva for Education. Keempat, MAN 1 Mojokerto belum memiliki kedua platform tersebut secara institusional, sehingga penelitian ini sekaligus menjadi momentum implementasi. Kelima, terdapat komitmen penuh dari pimpinan dan guru madrasah untuk mendukung seluruh proses penelitian.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dilakukan pendaftaran sekaligus implementasi Google Workspace for Education dan Canva for Education oleh peneliti. Setelah implementasi kedua platform tersebut berhasil, langkah selanjutnya adalah mengembangkan media pembelajaran berbasis modul ajar dan bahan ajar untuk mata pelajaran SKI kelas XII yang akan diterapkan dalam pembelajaran dengan integrasi Google Workspace for Education dan Canva for Education. Pelaksanaan penelitian direncanakan pada awal semester ganjil sehingga materi yang difokuskan adalah Bab I buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII tentang Perkembangan Islam di Indonesia. Selanjutnya media pembelajaran tersebut akan diuji validitasnya sebelum diterapkan dalam pembelajaran. Setelah lolos uji validitas maka akan diterapkan di dalam pembelajaran dan dievaluasi efektivitasnya dalam meningkatkan minat belajar siswa.
Berdasarkan pemaparan peneliti di atas, maka diangkatlah judul:
B. Identifikasi dan Batasan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan yang menjadi dasar penelitian ini:
- Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Aliyah Negeri masih dominan menggunakan metode konvensional yang bersifat tekstual, mengandalkan ceramah dan hafalan, serta berpusat pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. Pendekatan tersebut belum sepenuhnya selaras dengan karakteristik peserta didik kelas XII yang merupakan generasi digital native, sehingga menimbulkan kesenjangan antara metode penyampaian materi dengan gaya belajar siswa abad ke-21 (Furroyda dkk., 2022).
- Materi SKI, khususnya Perkembangan Islam di Indonesia, sarat dengan narasi historis, kronologi peristiwa, jalur masuk Islam ke Nusantara, strategi dakwah, dan fase Islamisasi. Karakter materi yang naratif dan abstrak menjadi kurang menarik apabila disampaikan dalam format teks linear, sehingga minat belajar siswa terhadap materi sejarah cenderung rendah dan SKI sering dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang membosankan.
- Literasi digital sebagian guru Pendidikan Agama Islam di madrasah masih terbatas. Data menunjukkan bahwa 60% guru di Indonesia belum mahir dalam teknologi informasi dan komunikasi (Pabbajah dkk., 2025), sehingga inovasi pembelajaran berbasis teknologi belum berjalan optimal pada mata pelajaran SKI di madrasah aliyah.
- Pemanfaatan Google Workspace for Education dan Canva for Education sebagai media pembelajaran SKI belum terintegrasi secara sistematis. Penelitian-penelitian terdahulu cenderung mengkaji kedua platform secara terpisah dan belum menempatkannya dalam satu kerangka media pembelajaran yang sistematis untuk konteks Pendidikan Agama Islam di madrasah aliyah (Akcil dkk., 2021; Hinchcliff & Mehmet, 2023).
- Belum tersedia media pembelajaran SKI yang dirancang khusus dengan mengintegrasikan Google Workspace for Education dan Canva for Education untuk meningkatkan minat belajar siswa, khususnya pada materi Perkembangan Islam di Indonesia di MAN 1 Mojokerto.
2. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, ruang lingkup penelitian ini dibatasi sebagai berikut:
- Penelitian ini difokuskan pada pengembangan media pembelajaran yang mengintegrasikan platform Google Workspace for Education dan Canva for Education. Penelitian tidak mencakup pengembangan perangkat lunak atau platform baru di luar kedua layanan tersebut.
- Subjek penelitian terbatas pada siswa kelas XII dan guru Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah Aliyah Negeri 1 Mojokerto. Oleh karena itu, temuan penelitian bersifat kontekstual dan tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh madrasah di Indonesia.
- Mata pelajaran yang menjadi fokus penelitian adalah Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) sebagai bagian dari rumpun Pendidikan Agama Islam di madrasah aliyah.
- Materi pembelajaran yang dikembangkan dibatasi pada Bab I buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII tentang Perkembangan Islam di Indonesia, yang meliputi: (a) situasi dan kondisi sebelum kedatangan Islam di Indonesia, (b) jalur masuknya Islam di Indonesia, (c) strategi dakwah Islam di Indonesia, dan (d) fase perkembangan Islam di Indonesia.
- Buku acuan yang digunakan adalah Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII (M. Samsul Arifin, 2020) terbitan Direktorat KSKK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI (ISBN 978-623-6687-58-1).
- Variabel terikat yang diukur dalam penelitian ini adalah minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.
- Model pengembangan yang digunakan adalah model Borg and Gall yang disederhanakan menjadi tujuh langkah, sesuai dengan ruang lingkup penelitian tesis Magister.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah yang telah diuraikan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
- Bagaimana pengembangan media pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education untuk siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto?
- Bagaimana validitas media pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education untuk siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto?
- Bagaimana efektivitas media pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education dalam meningkatkan minat belajar siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
- Mendeskripsikan proses pengembangan media pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education untuk siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto.
- Menganalisis validitas media pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education untuk siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto.
- Menguji efektivitas media pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education dalam meningkatkan minat belajar siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun praktis bagi pengembangan ilmu pengetahuan, dunia pendidikan, dan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di madrasah aliyah.
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sebagai berikut:
- Memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dalam bidang pengembangan media pembelajaran Pendidikan Agama Islam, khususnya pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di tingkat madrasah aliyah.
- Memberikan kontribusi konseptual mengenai integrasi platform digital Google Workspace for Education dan Canva for Education dalam satu kerangka media pembelajaran yang sistematis untuk pembelajaran agama berbasis teknologi.
- Menjadi referensi akademis bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi digital di madrasah, terutama yang berorientasi pada peningkatan minat belajar siswa.
- Memperkuat kajian teoretis mengenai pemanfaatan Pendidikan 4.0 dalam konteks Pendidikan Agama Islam yang selama ini masih relatif terbatas dibandingkan dengan mata pelajaran umum.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi berbagai pihak sebagai berikut:
- Bagi Siswa. Memberikan pengalaman belajar Sejarah Kebudayaan Islam yang lebih menarik, interaktif, dan visual sehingga dapat meningkatkan minat belajar siswa, khususnya pada materi Perkembangan Islam di Indonesia.
- Bagi Guru. Menyediakan media pembelajaran yang siap digunakan dan dapat dikembangkan lebih lanjut, serta meningkatkan kompetensi pedagogis dan teknologis guru Sejarah Kebudayaan Islam dalam memanfaatkan platform digital.
- Bagi Madrasah. Memberikan kontribusi pada peningkatan mutu pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MAN 1 Mojokerto, sekaligus menjadi momentum bagi madrasah untuk mengadopsi Google Workspace for Education dan Canva for Education secara institusional.
- Bagi Peneliti. Menambah pengalaman akademis dalam merancang penelitian pengembangan (R&D) sekaligus memperdalam pemahaman tentang integrasi teknologi digital dalam pembelajaran agama.
- Bagi Peneliti Selanjutnya. Menjadi rujukan dan pijakan untuk pengembangan media pembelajaran berbasis Google Workspace for Education dan Canva for Education pada mata pelajaran lain, jenjang pendidikan lain, atau materi Sejarah Kebudayaan Islam yang lebih luas.
F. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahan penafsiran dan memberikan pemahaman yang jelas terhadap istilah-istilah kunci dalam penelitian ini, berikut diuraikan definisi operasional yang digunakan:
- Pengembangan dalam penelitian ini merujuk pada serangkaian kegiatan sistematis yang dilakukan untuk menghasilkan produk media pembelajaran baru atau menyempurnakan media yang sudah ada. Pengembangan dilakukan dengan mengadaptasi model Borg and Gall yang disederhanakan menjadi tujuh langkah, yaitu: penelitian dan pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan bentuk awal produk, uji coba lapangan awal, revisi produk, uji coba lapangan utama, dan revisi produk akhir.
- Media Pembelajaran dalam penelitian ini adalah segala bentuk perantara yang digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, yang mencakup modul ajar digital, bahan ajar visual, lembar kerja siswa, materi presentasi, infografis, peta dakwah, lini masa Islamisasi, dan video pendek yang dirancang menggunakan platform Google Workspace for Education dan Canva for Education.
- Google Workspace for Education adalah paket layanan pendidikan terintegrasi dari Google yang mencakup Google Classroom, Google Docs, Google Slides, Google Sheets, Google Drive, Google Meet, dan Google Forms. Dalam penelitian ini, Google Workspace for Education berperan sebagai sistem manajemen pembelajaran (Learning Management System) untuk mengelola kelas, distribusi materi, kolaborasi tugas, dan asesmen pembelajaran.
- Canva for Education adalah platform desain grafis daring berbasis web yang menyediakan akses gratis penuh ke fitur Canva Pro bagi guru dan siswa jenjang K-12. Dalam penelitian ini, Canva for Education digunakan sebagai studio kreatif untuk memproduksi konten visual pembelajaran berupa presentasi, infografis, poster, lembar kerja, peta, lini masa, dan video pendek yang mendukung visualisasi materi Sejarah Kebudayaan Islam.
- Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) adalah salah satu mata pelajaran rumpun Pendidikan Agama Islam di madrasah aliyah yang mempelajari perkembangan agama dan kebudayaan Islam dari masa Rasulullah hingga masa kontemporer. Penelitian ini dibatasi pada Bab I buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII tentang Perkembangan Islam di Indonesia, yang mencakup situasi pra-Islam, jalur masuk, strategi dakwah, dan fase Islamisasi.
- Validitas dalam penelitian ini adalah tingkat kelayakan media pembelajaran berdasarkan penilaian para ahli, yang meliputi ahli materi Sejarah Kebudayaan Islam, ahli media pembelajaran, dan ahli desain pembelajaran. Validitas diukur menggunakan instrumen angket validasi dengan skala Likert empat poin dan dianalisis secara kuantitatif dengan kategori sangat valid, valid, cukup valid, atau tidak valid.
- Efektivitas dalam penelitian ini adalah tingkat keberhasilan media pembelajaran dalam mencapai tujuan yang ditetapkan, yaitu meningkatkan minat belajar siswa kelas XII di MAN 1 Mojokerto. Efektivitas diukur dengan membandingkan skor minat belajar siswa sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) penggunaan media menggunakan analisis N-Gain dan uji-t.
- Minat Belajar adalah kecenderungan psikologis siswa berupa perasaan senang, ketertarikan, perhatian, dan keterlibatan aktif terhadap mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Dalam penelitian ini, minat belajar diukur melalui empat indikator utama, yaitu: perasaan senang, ketertarikan, perhatian, dan keterlibatan, dengan instrumen angket minat belajar berskala Likert.
- MAN 1 Mojokerto adalah Madrasah Aliyah Negeri 1 Mojokerto yang menjadi lokasi penelitian. Madrasah ini dipilih karena memiliki fasilitas teknologi yang memadai, ketersediaan staf yang cukup, situs resmi yang mendukung pendaftaran akun institusional, serta komitmen pimpinan dan guru untuk mendukung penelitian.
G. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan
Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah paket media pembelajaran digital terintegrasi yang dirancang untuk memvisualisasikan materi Sejarah Kebudayaan Islam kelas XII tentang Perkembangan Islam di Indonesia melalui ekosistem Google Workspace for Education dan Canva for Education. Spesifikasi produk dijabarkan sebagai berikut.
1. Bentuk Produk
Produk berbentuk paket media pembelajaran digital yang terdiri atas tiga komponen utama. Pertama, ruang kelas digital berupa kelas Google Classroom yang berfungsi sebagai pusat manajemen pembelajaran, mencakup distribusi materi, penugasan, diskusi, dan penilaian. Kedua, bank konten visual berupa kumpulan aset Canva for Education yang tersimpan dalam folder Google Drive bersama, mencakup peta tematik, lini masa, infografis, kartu konsep, poster keteladanan, video pendek, dan template tugas siswa. Ketiga, buku panduan penggunaan dalam format PDF terpisah untuk guru dan siswa yang disertakan di dalam kelas Google Classroom. Seluruh komponen diakses melalui tautan undangan kelas Google Classroom dan tautan berbagi Google Drive.
2. Materi Pembelajaran
Materi yang dikembangkan adalah Bab I buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII tentang Perkembangan Islam di Indonesia yang disusun M. Samsul Arifin sesuai kurikulum KSKK Madrasah Tahun 2020 (ISBN 978-623-6687-58-1). Materi terbagi atas empat sub-pokok: (a) situasi dan kondisi Indonesia sebelum kedatangan Islam; (b) jalur masuknya Islam di Indonesia melalui perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian, dan dakwah; (c) strategi dakwah Islam di Indonesia; serta (d) fase perkembangan Islam di Indonesia.
3. Komponen Google Workspace for Education
Aplikasi Google Workspace for Education yang dimanfaatkan dalam produk meliputi: (a) Google Classroom sebagai platform manajemen pembelajaran utama untuk distribusi materi, penugasan, diskusi, dan penilaian; (b) Google Docs untuk lembar kerja kolaboratif dan jurnal refleksi siswa; (c) Google Forms untuk pretest, posttest, kuis, dan angket minat belajar; (d) Google Drive untuk penyimpanan dan berbagi seluruh aset pembelajaran; (e) Google Meet untuk pertemuan tatap muka jarak jauh apabila diperlukan; serta (f) Google My Maps untuk pemetaan kolaboratif jalur masuk Islam ke Nusantara dan lokasi pusat-pusat dakwah awal. Fungsi presentasi tidak menggunakan Google Slides karena seluruh kebutuhan presentasi materi dan proyek siswa dipenuhi oleh Canva for Education yang memiliki kapabilitas serupa dengan kualitas visual yang lebih kaya.
4. Komponen Canva for Education
Canva for Education berperan sebagai studio kreatif untuk produksi seluruh konten visual dan presentasi pembelajaran. Akun yang digunakan adalah akun Canva for Education institusional MAN 1 Mojokerto yang terhubung dengan akun Google Workspace for Education madrasah. Aset visual yang dikembangkan diuraikan pada tabel berikut.
| Tipe Aset | Topik | Estimasi Jumlah |
|---|---|---|
| Peta tematik | Jalur masuk Islam ke Nusantara (abad ke-7 hingga ke-13 Masehi) | 2 buah |
| Lini masa | Fase Islamisasi Indonesia (abad ke-7 hingga ke-16 Masehi) | 1 buah |
| Infografis | Enam jalur dakwah (perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian, dakwah) | 6 buah |
| Kartu konsep | Tokoh-tokoh dakwah awal dan teori masuknya Islam | 6 buah |
| Poster | Keteladanan strategi dakwah damai | 3 buah |
| Video pendek | Pengantar setiap sub-pokok materi | 4 buah |
| Presentasi materi | Slide pembelajaran untuk setiap sub-pokok | 4 buah |
| Template tugas siswa | Untuk proyek akhir kelompok | 3 buah |
| Total perkiraan aset | 29 buah |
Estimasi jumlah aset di atas merupakan rancangan awal yang akan disesuaikan pada tahap pengembangan produk berdasarkan hasil analisis kebutuhan dan masukan validator ahli.
5. Spesifikasi Teknis
Spesifikasi teknis produk dirancang untuk memastikan kemudahan akses dan implementasi di lingkungan madrasah. Pertama, seluruh komponen produk berbasis cloud sehingga tidak memerlukan instalasi aplikasi tambahan. Kedua, perangkat minimum yang dibutuhkan adalah komputer, laptop, atau gawai dengan peramban modern (Chrome, Safari, Edge, atau Firefox versi terbaru) dan koneksi internet yang stabil. Ketiga, akun yang diperlukan adalah akun Google institusional MAN 1 Mojokerto yang juga terdaftar pada Canva for Education. Keempat, bahasa antarmuka dan konten produk menggunakan Bahasa Indonesia. Kelima, tipografi mengombinasikan jenis huruf serif untuk konten naratif dan sans-serif untuk header serta antarmuka, mengikuti prinsip kontras pada teori kognitif pembelajaran multimedia (Mayer, 2021). Keenam, skema warna menggunakan palet hijau-emas yang kohesif dengan identitas Islami akademik. Ketujuh, aksesibilitas konten mengikuti panduan kontras teks-latar pada standar Web Content Accessibility Guidelines (WCAG) tingkat AA, dengan ukuran font minimum empat belas titik untuk konten utama.
6. Sasaran Pengguna
Sasaran pengguna utama produk adalah siswa kelas XII MAN 1 Mojokerto yang berada pada usia tujuh belas hingga delapan belas tahun. Pada usia tersebut siswa berada pada tahap operasi formal menurut Piaget yang ditandai oleh kemampuan berpikir hipotetis dan abstrak (Piaget & Inhelder, 1969), serta tergolong sebagai generasi digital native yang akrab dengan teknologi digital sejak usia dini (Hashim & Yusoff, 2022). Sasaran pengguna pendukung adalah guru pengampu mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas XII di MAN 1 Mojokerto yang akan memfasilitasi penggunaan produk dalam pembelajaran.
H. Sistematika Pembahasan
Untuk memberikan gambaran utuh mengenai alur penelitian dan penulisan tesis ini, sistematika pembahasan disusun dalam lima bab sebagai berikut:
- Bab I Pendahuluan. Bab ini memuat latar belakang masalah, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, dan sistematika pembahasan. Bab ini berfungsi sebagai pengantar yang memberikan kerangka pikir dan arah penelitian secara keseluruhan.
- Bab II Kajian Teori. Bab ini memaparkan landasan teoretis penelitian yang meliputi konsep media pembelajaran, teori belajar yang relevan (Piaget, Vygotsky, dan teori kognitif Mayer), Google Workspace for Education, Canva for Education, integrasi keduanya, minat belajar, model pengembangan Borg and Gall, serta kerangka berpikir penelitian. Bab ini juga memuat tinjauan penelitian terdahulu yang relevan.
- Bab III Metode Penelitian. Bab ini menjelaskan jenis dan pendekatan penelitian (R&D dengan mixed methods), prosedur pengembangan tujuh langkah Borg and Gall, lokasi dan subjek penelitian, instrumen pengumpulan data (angket validasi ahli, angket minat belajar, dan pedoman wawancara), teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data kualitatif dan kuantitatif.
- Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. Bab ini memaparkan hasil penelitian yang meliputi: (a) deskripsi proses pengembangan media pembelajaran sesuai tujuh langkah Borg and Gall, (b) hasil uji validitas media oleh para ahli, dan (c) hasil uji efektivitas media dalam meningkatkan minat belajar siswa. Setiap hasil dianalisis dan dibahas dengan merujuk pada teori dan penelitian terdahulu.
- Bab V Penutup. Bab ini memuat simpulan yang menjawab rumusan masalah penelitian, implikasi penelitian baik secara teoretis maupun praktis, keterbatasan penelitian, dan saran bagi guru, madrasah, serta peneliti selanjutnya.
Bagian akhir tesis dilengkapi dengan daftar pustaka yang memuat seluruh sumber referensi yang dirujuk, serta lampiran yang berisi instrumen penelitian, hasil validasi, data uji coba, dokumentasi proses pengembangan, dan produk akhir media pembelajaran yang dihasilkan.